Chapter 4 - Si Keledai, Sang Raja, Dan Aku


“Kau tahu, aslinya anjing adalah hewan yang hidup berkelompok!” Kata Sudou dengan bersemangat, mengambil tomat ceri dengan garpu kecil dari kotak bekal. “Seluruh anggota kelompok adalah keluarga, jadi ketika ada anjing yang kesusahan, mereka membantu, ketika anjing dipuji, mereka bahagia, dan ketika anjing sedang sendirian, mereka merasa kesepian. Sama seperti Leo yang aku pelihara! Tapi kucing beda!”

"Tapi aku pikir cara anjing menjaga jarak dengan pemiliknya itu lumayan," jawab Shuuji sedikit tersenyum, berhenti sejenak untuk menyantap sesuap roti. “Tidak terlalu dekat ataupun jauh, hanya menjalani hidup sesuka hati. Baru-baru ini juga ada penelitian yang menjelaskan bahwa walaupun anjing mengerti kalau manusia berbeda dari mereka, kucing berpikir kalau manusia itu kucing juga. Aku pikir itu bagus kalau mereka melihat kita seperti itu."

Dan di depanku adalah Hiiragi, mendengarkan mereka berdua sambil makan dengan sumpitnya.

Semenjak hari ujian kami makan bersama seperti ini. Sudou dan Shuuji akan datang begitu periode keempat berakhir, dan kami makan sambil mengobrol sampai periode kelima.

Tentu saja, yang paling banyak berbicara adalah Sudou, lalu Shuuji, lalu,

"Umm, bagaimana mereka melakukan penelitian...?" Tanya Hiiragi, karena dia lebih sering berbicara sekarang. "Bagaimana caranya mereka memeriksa kalau kucing melihat manusia sebagai kucing..."

“Ah, ya, kalau gak salah itu tertulis di artikel... Mereka membandingkan bagaimana kucing dan anjing bertindak antara satu sama lain, dan bagaimana mereka bertindak dengan manusia. Hasilnya adalah kucing bertindak sama dengan manusia dibandingkan dengan kucing lainnya, sementara anjing bertindak berbeda dibandingkan dengan anjing lainnya.”

"Begitu..."

"Tapi aku tidak tahu itu benar atau tidak. Aku hanya membacanya di internet.”

"Tapi yaa!" Seru Sudou setelah menelan tomat ceri nya.

Setelah melalui ujian tengah semester tanpa gagal satu subjek pun, ia kembali ke dirinya yang energik seperti biasanya.

“Itu artinya anjing lebih pintar! Lagipula anjing itu baik! Jadi anjing lebih imut!"

"Pintar tidak sama dengan imut, kau tahu."

"Semakin pintar mereka, semakin mudah untuk saling memahami!"

"... Hosono-kun," Hiiragi berhenti menggunakan sumpitnya dan menatapku sambil memiringkan kepalanya. "Mana yang lebih kau sukai antara anjing dan kucing?"

Aku merasakan sakit di dadaku.

Hal ini terus terjadi sejak hari itu. Setiap kali Hiiragi melihat dan berbicara padaku, dadaku terasa sakit dan aku kehilangan kata-kata.

Ditambah, dia baru saja bilang kata "suka".

Bahkan aku sendiri pikir kalau aku idiot. Aku tahu itu tidak diucapkan dengan "makna itu". Tetap saja, hanya mendengar kata itu darinya membuatku salah tingkah.

"...Kucing, mungkin? Lagipula kau punya Shishamo... "

Mungkin dia menjadi cemas karena keheninganku, Hiiragi melihat wajahku.

Rambut hitam halusnya bergoyang. Matanya yang berbentuk almond menatapku.

"... Tidak, tidak juga," aku berhasil menjawab setelah menenangkan diri dengan meminum teh lemonku. "Memang benar kami memelihara kucing di rumah, tapi... Itu karena ibuku memungutnya. Jika dia mengambil seekor anjing, aku sama sekali tidak masalah... "

Sejujurnya, aku tidak peduli. Aku tidak begitu mendengarkan obrolan mereka.

Aku lebih fokus melihat bibir Hiiragi yang sedang memakan brokoli di depanku, jadi aku tidak punya ruang untuk memikirkan hal lain.

"Ah, itu dia, si 'aku tidak bisa memilih'! Pasti selalu ada orang yang tidak bisa memutuskan keputusannya sendiri!"

“Tapi aku pikir kebanyakan orang sama saja. Bagaimanapun, kucing dan anjing sama-sama lucu. ”

"Aku akui itu benar! Tapi, aku tidak bisa setuju dengan tren kucing yang sekarang ini! Keimutan kucing dan anjing sama sekali tidak berubah, jadi kenapa kucing diperlakukan lebih baik!"

“Kau benar, baru-baru ini kucing lebih populer. Bahkan di TV, banyak sekali acara tentang kucing..."

Hiiragi sudah berubah banyak semenjak aku bertemu dengannya.

Hiiragi, yang tidak bisa berbicara dengan siapa pun dan hanya membaca sendirian di kelas. Sekarang, dia mengobrol seperti itu dengan Sudou dan Shuuji yang sangat berbeda dengannya.

Tentu saja, mereka berdua spesial. Dia tidak bisa seperti itu dengan siapa pun. Namun, berkat mereka, Hiiragi mampu memperluas hubungannya, sehingga dapat berbicara dengan lebih banyak orang.

Aku senang tentang hal itu, tapi itu juga membuatku merasa sedikit kesepian.

Benar, akulah yang membuat semuanya berubah jadi seperti ini. Namun, sedikit demi sedikit, hubungan rahasia kita, situasi di mana aku bisa menyimpan dirinya untuk diriku sendiri, akan berakhir.

Jika keinginan Hiiragi terkabulkan.

Jika dia bisa bersikap normal dengan orang-orang, mendapatkan lebih banyak teman, dan bisa hidup dengan ceria seperti Sudou dan Shuuji.

Akankah dia masih mau berbicara denganku?

Akankah dia masih mau bilang kalau dia senang bersamaku?

"Selama aku menyukai mereka itu tidak masalah!"

Perkataan Sudou mengejutkanku.

“Persetan dengan tren! Jika ada tikus mondok viral, apa orang-orang akan bilang kalau tikus mondok itu imut!?”

Apa, bukannya kita sedang membicarakan hewan kesukaan...

Kupikir dia membaca pikiranku. Bukan berarti itu mungkin sih.

Tapi, apa yang dikatakan Sudou itu benar. Biarkan orang-orang ingin menyukai apa saja yang mereka suka. Baru setelah itu memikirkan orang lain.

Tapi aku tidak bisa mengambil keputusan dengan mudah. Aku tidak bisa menyangkal merasa kesepian dan cemas setelah melihat perubahan Hiiragi.

"... Tapi aku suka tikus mondok..." ucap Hiiragi, membuat Sudou dan Shuuji melihat padanya dengan tatapan aneh, "A-apa... Cuma aku?"

"... Tokki, kau memang punya selera aneh," balas Sudou, memegang bahu Hiiragi sambil melihatnya dengan kasihan.



"U-umm, Hosono-kun."

Beberapa saat setelah Sudou dan Shuuji kembali ke ruang kelas mereka, meninggalkan pertarungan anjing vs kucing yang belum beres.

Hiiragi mulai bicara padaku tepat sebelum periode kelima dimulai.

"Y-ya, ada apa?"

"E-eto, apa kau luang di hari Minggu...?"

"Minggu? Ya, aku tidak merencanakan apa pun..."

"Begitu... Kalau gitu, hmm, kau mau pergi bersama?"

“I-iyaa. Tapi, bukankah seharusnya kau bertanya saat mereka berdua ada disini? Lebih besar kemungkinannya mereka punya rencana ketimbang aku."

"... Ah, eto, tidak, bukan itu yang kumaksud," Hiiragi sedikit menunduk, lalu menatapku dengan tatapan ingin tahu. "Umm ... Hanya kita berdua..."

Aku menghela napas.

Hanya kita berdua. Tanpa Sudou dan Shuuji.

Kenapa? Kita selalu pergi berempat, tidak pernah hanya Hiiragi dan aku. Kenapa dia mendadak bertanya seperti itu?

"... Ti-tidak apa-apa jika kau tidak mau! Aku tidak ingin memaksamu..." kata Hiiragi. Kemudian dia menambahkan seolah mencoba menjelaskan untuk dirinya sendiri, "Erm... Ada kafe yang ingin aku kunjungi, dan kau bisa baca novel dan hal-hal lain seperti itu di sana, jadi aku pikir hanya kamu yang tertarik..."

"Ah, begitu."

Aku akhirnya mengerti. Benar, Sudou dan Shuuji tidak akan tertarik pada kafe seperti itu. Dibandingkan dengan mereka, dia akan lebih nyaman dengan pencinta buku sepertiku.

"Baiklah. Aku akan pergi bersamamu."

"Terima kasih," ucap Hiiragi sambil tersenyum, yang mulai ia tunjukkan belakangan ini. "Kalau gitu aku akan mengirimkan tempat ketemu dan detail lainnya di LINE nanti... Sungguh, terima kasih."

Lonceng pun berbunyi dan Hiiragi berbalik ke depan.

Periode kelima dimulai dengan guru matematika, Tanaka (59), berjalan goyah masuk kelas.

Kami berdiri, membungkuk, duduk, dan kelas dimulai. Aku mulai berpikir untuk melihat bagian belakang kepala Hiiragi.

Kita berdua. Kafe. Minggu. Tempat bertemu.

Bukankah itu "kencan"?

Tentu saja aku yakin Hiiragi tidak memiliki niat seperti itu. Tapi ketika melihat dari sudut pandang lain, seorang murid SMA laki-laki dan perempuan pergi bersama, kau akan berpikir kalau itu kencan.

Memikirkan hal itu, aku tidak bisa menahan kegelisahanku. Ini benar-benar berbeda dari jalan-jalan kita yang biasa, rasanya seperti rintangannya lebih tinggi.

Dan disaat yang sama, aku sadar.

Aku merasakan sedikit ketidaknyamanan di dadaku.

Di dalam dadaku yang sedang bersuka cita, ada sebuah distorsi, seakan ada sebuah batu kecil yang dingin berguling ke dalam dadaku.

Apa itu tadi? Apakah itu ilusi yang dihasilkan oleh kesepian dan kecemasanku juga?






"Apa yang harus kita bicarakan saat hanya ada kita berdua?" Tanyaku pada Shishamo yang duduk di atas perutku. "Hingga kini kita selalu kemana-mana berempat, jadi aku hanya mengikuti arus pembicaraan dengan Sudou dan Shuuji, tapi jika hanya kita berdua..."

Delapan jam berlalu semenjak aku diajak Hiiragi.

Perasaan tidak nyaman yang aneh di dadaku menghilang, hanya kegembiraan dan kegugupan yang masih tertinggal. Tidak bisa menenangkan diri, aku ingin seseorang untuk diajak bicara, jadi di sinilah aku, berbicara pada Shishamo.

Aku sudah berduaan dengan Hiiragi beberapa kali.

Ketika aku tahu dia adalah Tokiko, ketika dia meminta bantuanku, atau saat di jalan pulang dari rumahnya. Tetapi setiap kali kita berduaan pasti ada subjek. "Usia 14 Tahun", permintaan Hiiragi, Hiiragi Tokoro. Dan kali ini, tidak ada topik apapun. Ditambah, ini tidak hanya berlangsung selama beberapa menit saja, tetapi lebih lama lagi.

Ini akan menjadi pertama kalinya aku berduaan dengan perempuan begitu lama, jadi aku tidak tahu harus apa untuk menghabiskan waktu.

"Bagaimana denganmu, Shishamo? Waktu jalan sama si jantan, kau lebih suka bagaimana?”

Aku mencoba bertanya, tapi kucing gembrot di perutku hanya terus melihatku dengan bangga.

Lagipula, apa yang Hiiragi pikirkan tentangku?

Pertama, tidak diragukan lagi kalau aku punya kesan yang baik di matanya. Aku tidak bisa membaca mood, dan buruk dalam menebak perasaan orang, tapi dia bilang aku populer baginya. Dan aku tidak berpikir kalau Hiiragi, kalau Tokiko akan berbohong seperti itu. Aku cukup yakin kalau kesanku di matanya itu positif.

Tapi aku tidak tahu perasaan seperti apa itu.

Apakah itu terhadap teman yang ia buat di SMA?

Ataukah terhadap seseorang dari lawan jenis?

Aku hampir yakin itu yang pertama. Hingga kini, tidak ada perilaku Hiiragi yang menunjukkan bahwa dia melihatku sebagai seseorang dari lawan jenis.

Juga, secara objektif, aku tidak terlalu tampan. Tidak bisa membaca suasana, tidak ceria, bukan olahragawan, jadi pada dasarnya aku tidak punya hal yang bisa membuatku jadi populer. Aku sungguh tidak tahu ada apa di dalam diriku yang mampu membuat perempuan jatuh cinta padaku. Mengharapkan dia melihatku sebagai yang terakhir benar-benar memalukan.

Dan bagaimana denganku?

Apa aku ingin Hiiragi menyukaiku? Apa aku ingin menjadi pasangan dengannya? Apa aku ingin melakukan hal-hal erotis dengannya?

Kemungkinan besar, semuanya. Aku ingin disukai lawan jenis, berada dalam hubungan spesial, dan melakukan hal-hal yang hanya diperbolehkan untuk kekasih.

Aku berinteraksi dengan Hiiragi, yang mungkin hanya melihatku sebagai teman semata, dengan motif yang kotor. Aku merasa tidak jujur ​​padanya.

Selain itu... Bisakah aku, yang menyakiti Ashiya, merasa seperti itu? Apakah aku berhak mengharapkan hal itu?

Semasih aku sedikit merasa bersalah, aku mendengar suara pintu terbuka di lantai satu.

Sepertinya ibuku sedang berbicara dengan tamu, meskipun aku tidak bisa mendengar detailnya melalui dinding.

Langkah kaki beberapa orang memasuki rumah, melewati lorong, naik tangga, dan tepat ketika aku berpikir "Kau bercanda..." berhenti di depan pintuku.

"Heeeey, Hosono!"

"Sori ganggu~"

Sudou dan Shuuji masuk bahkan tanpa mengetuk.

"Tunggu... A-apa yang kalian lakukan!"

Aku melompat dari kasur tempatku berbaring. Shishamo melompat ke lantai dan tampak kesal.

“Hanya ingin membicarakan sesuatu. Woah, Shishamo beneran jadi besar!”

"Ya, dia sudah dewasa sekarang."

"Tidak, jangan cuma masuk ke kamarku seperti itu! Setidaknya ketuk dulu lah! Apa yang akan kalian lakukan jika aku berada di tengah-tengah sesuatu!"

"Lol."

"Kau yang terburuk! Tidak, serius, apa yang kau lakukan..."

Sudou dan Shuuji duduk di sekitar meja kecil, meletakkan keripik dan jus yang mungkin mereka beli sebelum datang.

"Jadi, ada apa..."

"Heii," mulai Sudou, menatapku yang duduk di tempat tidur, "ada sesuatu yang ingin aku konfirmasi padamu, Hosono."

"...A-apa..."

"Apa kau pacaran dengan Tokki?"

“………. Hah?"

Waktu berhenti sejenak ketika aku mendengar pertanyaan yang tidak bisa dipahami itu.

Aku pikir itu hanya lelucon pada awalnya, tetapi ekspresi mereka berdua serius. Mereka sungguhan bertanya.

"T-tidak mungkin kita... Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu..."

"Benarkah? Belakangan ini getaran yang kalian berdua berikan berubah.”

"Su-sungguh...?"

"Ya, kupikir juga begitu," kata Shuuji, duduk dengan gaya seiya di atas karpet.

Dia membuat ekspresi serius, seperti seorang pria muda memberi salam pada calon mertuanya. Aku yakin mertuanya akan senang jika putri mereka membawa orang seperti itu pulang.

"Aku tidak ingin mengganggu, tapi belakangan ini kalian berdua berhenti berbicara di depan umum. Meski begitu, kau memberi kesan berada dalam hubungan yang lebih intim dari sebelumnya, seolah-olah kalian dapat saling memahami, sesuatu seperti itu... Jadi yaa, melihatmu seperti itu, satu-satunya hal yang ingin ditanyakan adalah apakah kau mulai berpacaran."

"Dan juga, Tokki jadi lebih imut."

Sudou lebih santai daripada Shuuji, tapi masih memasang ekspresi serius, punggungnya lurus sambil duduk dengan kakinya membentuk huruf "W".

“Tentu saja sebelumnya juga dia sudah sangat cantik, dan aku sangat iri tentang itu, tapi, belakangan ini dia jadi lebih berkilauan. Apa kau sadar? Orang-orang di kelasmu jadi lebih melihat Tokki daripada sebelumnya.”

"...E-eh, benarkah?"

Aku sama sekali tidak sadar. Aku tidak pernah memperhatikan siapa pun selain Hiiragi di kelas.

“Terlebih, ingat ketika kau satu-satunya yang diam di rumah Tokki? Shuuji bilang pasti telah terjadi sesuatu.”

"Sesuatu?"

"Kau nembak dan dapat OK. Dan kau langsung menciumnya, atau bahkan lebih dari itu."

"… Begitu."

Itu kesalahpahaman besar.

Faktanya adalah, jauh dari pengakuan, aku bertemu kakaknya dan sepenuhnya dikontrol olehnya.

Tapi, begitu... Bagi Sudou dan Shuuji, kelihatannya seperti itu. Yahh, memang benar kalau kami suka memberikan penjelasan yang ngaco, jadi tidak aneh bagi mereka untuk salah paham.

Shishamo, yang sedang berbaring di kasur, kembali ke lututku. Aku merasakan berat badan dan suhu tingginya di kakiku.

"Eto, aku tidak bohong, aku serius tidak pacaran dengan Hiiragi," jawabku sambil membelai-belai Shishamo.

"... Benarkah?"

"Ya. Tidak ada pengakuan juga. Sebenarnya, apa yang ingin kau lakukan jika itu betulan terjadi?”

“Yahh, tentu saja kita akan perhatian!” kata Sudou. Sepertinya ketegangan sudah hilang saat dia kembali ke dirinya yang biasa. "Aku tahu kita agak memaksa, tapi kita masih berpikir kalau kamu mungkin ingin waktu untuk berduaan jadinya kita harus menahan diri. Itu sebabnya kita perlu tahu."

"Jadi begitu..."

Itu benar-benar sesuatu yang hanya bisa dipikirkan oleh mereka berdua. Iya, mereka memang cukup memaksa, tapi mereka tahu kapan harus menahan diri. Sesuatu yang tidak bisa aku lakukan.

Mungkin kucingku tidak suka tempat dimana aku membelainya, Shishamo mulai melawan tanganku di atas lututku. Aku meregangkan lengan bajuku untuk melindungi tanganku.

"Tapi," Shuuji memulai, membuka bungkus keripik, "kau suka Hiiragi, kan?"

Aku tidak terlalu gugup seperti yang kukira.

Aku hanya berpikir bahwa, sudah diduga, sangat jelas sekali. Jika itu mereka berdua, tentu saja mereka akan menyadarinya. Meski begitu, ini masih memalukan.

"Tidak biasanya kau memperhatikan seseorang. Kau biasanya tidak peduli dengan orang lain, tapi kau memperhatikan Hiiragi-san bahkan sebelum kita bertemu dengannya. Ditambah kau sudah sangat mengenalnya, dan kau selalu melihatnya... Dengan begitu, mau dipikir bagaimanapun, ini hanya bisa diartikan kalau kau menyukainya."

"...Kau benar," aku jujur ​​mengakui. "Ya, seperti yang kau katakan, Shuuji."

"Kau menyukai Tokki?"

"... Iya."

Ketika aku mengangguk, Sudou tersenyum lebar.

"Fufufufu!" Sudou menyeringai, menatapku dengan tangannya menyilang diatas meja kecil. “Akhirnya, Hosono jatuh cinta! Itu bagus, aku mendukungmu. Jika kau butuh bantuan, hubungi aku!"

[OLI Fan Translation] Bokukano Korekara


"Padaku juga. Aku sudah banyak mendengar banyak cerita cinta, jadi aku pikir aku bisa memberimu saran yang bagus."

"Tidak, kalian tidak usah... Ini bukan masalah be──"

Tiba-tiba aku menyadari sesuati ketika aku berbicara.

Itu benar, Sudou dan Shuuji ada disini.

Aku tidak tahu harus membicarakan apa ketika berduaan dengan Hiiragi.

Kalau begitu, aku hanya perlu bertanya pada mereka berdua yang punya kemampuan komunikasi tinggi, dan juga kenal Hiiragi. Aku yakin mereka bisa memberiku saran yang berguna.

Tapi...

"... Ah, yahh..."

Aku bisa tanya.

... Apa ini sungguh tidak masalah? Apa aku bisa benar-benar meminta bantuan mereka setelah semua yang terjadi?

Hingga kini aku selalu jahat pada Sudou dan Shuuji.

Mengabaikan pesan mereka di LINE dan ajakan mereka untuk bermain, aku banyak melakukan hal-hal yang bisa membuat mereka membenciku.

Terlalu egois bagiku meminta bantuan mereka ketika aku sedang dalam masalah.

Aku ingat ekspresi yang Ashiya buat hari itu.

Karena apa yang aku katakan, dia mulai menangis.

Aku terus mengingat kejadian itu berulang kali selama bertahun-tahun.

Ketika aku membuat dirinya seperti itu, bisakah aku benar-benar—

"... Hosono."

Shuuji tersenyum padaku saat aku sedang ragu-ragu.

Itu adalah senyuman yang akan membuat gadis mana pun di dunia ini jatuh cinta padanya dalam sekejap.

"Kau terlihat ragu-ragu, tapi... Tidak usah sungkan dengan kita, kau tahu."

"Iya!" seru Sudou, meletakkan botol plastiknya ke atas meja dengan keras.

Itu mengejutkan Shishamo yang berhenti menyerang tanganku, membuatnya melihat Sudou.

"Kebahagiaan Hosono mungkin terhubung dengan kebahagiaan Tokki, jadi kita ingin membantu sebanyak mungkin!"

“... Begitu,” jawabku, tersenyum secara refleks.

Sudah kuduga. Lagipula, aku ada di samping mereka sampai kasus dengan Ashiya.

Namun, sekali lagi aku sadar.

Bahwa mereka berdua berhati lembut, sampai ke titik mengkhawatirkan.

Aku masih tetap akan menjaga jarak dari mereka mulai sekarang juga.

Itu adalah prinsipku, dan aku tidak bermaksud untuk melepasnya.

Namun, sekarang, dan hanya sekarang, aku akan mengabaikannya dan bergantung pada mereka.

"... Kalau begitu, aku minta saran kalian tentang sesuatu."






Sudah lama ada cuaca secerah ini.

Aspal cair hitam yang masih basah hingga kemarin sudah sepenuhnya kering, dan angin dipenuhi aroma musim panas.

Aku masih ingat nasihat yang diberikan Sudou dan Shuuji padaku. Aku tidak yakin bisa memanfaatkan semua sarannya, tapi aku akan melakukan apa yang aku bisa.

Aku tiba di taman di daerah perumahan tepat lewat siang hari.

Hiiragi memilih taman tempat dimana dia meminta bantuanku sebagai tempat pertemuan kita. Taman ini sering muncul di "Usia 14 Tahun", dan dekat dari rumah Hiiragi.

Sama seperti terakhir kali, anak-anak sedang bermain di bawah pengawasan orang tua mereka. Aku tidak tahu apakah itu karena musim, atau karena ini hari Minggu, tetapi suara mereka entah bagaimana lebih ceria dibanding terakhir kali. Sedangkan diriku, aku sedang menunggu Hiiragi dengan gugup.

Kemudian, sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan.

"Maaf, apa aku membuatmu menunggu...?"

Hiiragi berlari ke arahku, yang sedang duduk di bangku.

“Tidak, aku baru saja tiba. Aku tahu itu terdengar seperti bohong, tapi aku memang baru saja tiba.”

Itu bohong.

Sebenarnya, aku tiba tiga puluh menit leih awal. Tentu saja, aku tidak akan mengatakannya.

"Begitu, terima kasih..."

Mungkin dia menebak sesuatu dengan menatapku, Hiiragi tersenyum.

"Baiklah, aku pegang kata-katamu. Ayo pergi."

Aku berdiri dan mulai berjalan di sebelah Hiiragi.

Aku mengamatinya dengan lirikan ke samping.

Hari ini Hiiragi mengenakan gaun biru kehijauan dengan kardigan tipis, dan sandal dengan desain yang rumit. Dibandingkan dengan pakaian desain sederhana yang memfokuskan pada kemudahan bergerak yang ia kenakan di rumahnya, baju itu terlihat sedikit stylish.

Sedangkan aku, aku mengenakan kemeja putih, celana jins dan sepatu yang Sudou pilih untukku. Dia bilang, "Kau tidak punya baju yang bagus, jadi tidak bisa lebih baik dari ini, tapi, yup, setidaknya dia tidak akan berpikir ini terlihat buruk," jadi seharusnya tidak apa-apa. Mungkin.

"Tentang tujuan kita hari ini," tanpa menyadari pandanganku, Hiiragi mulai menjelaskan dengan mood yang bagus. "Itu kafe dari rumah tua bergaya Jepang yang sudah diperbaiki... Kafenya dibangun 80 tahun yang lalu dan pasangan musisi tinggal di sana, tapi mereka harus menjualnya dan rencananya akan dihancurkan..."

"80 tahun, yaa, itu luar biasa."

"Iya kan? Itu sebabnya orang-orang berpikir sayang sekali untuk dihancurkan, jadi mereka bekerja sama untuk membelinya kembali dan merenovasi interiornya."

Begitu ya, itu jenis tempat yang disukai Tokiko.

Itu diulang berkali-kali di "Usia 14 Tahun" kalau dia menyukai hal-hal kuno.

"Aku selalu ingin pergi ke kafe ini... Tapi aku tidak terlalu punya waktu, jadi aku senang kau menerima ajakanku, Hosono-kun."

Hiiragi tersenyum polos. Seperti yang ku pikir, tidak ada makna tersembunyi dalam acara hari ini.

Tetap saja, kenapa yaa.

Jarak di antara kita, ketika kita berjalan berdampingan, anehnya sangat dekat.

Meskipun aku pikir dia terlalu dekat dan aku langsung menjaga jarak, dia akan segera mendekat sampai-sampai bahu kita akan bersentuhan. Aku bisa merasakan suhu tubuhnya melalui kain tipis.

Aku yakin aku terlalu memikirkannya. Iyaa, aku yakin kita selalu berjalan saling berdekatan. Tunggu, dipikir-pikir, aku hampir tidak pernah berjalan di sebelah Hiiragi, atau lebih tepatnya, di sebelah siapa pun, jadi aku tidak yakin apakah dia sebenarnya terlalu de──

"Wah!"

Tiba-tiba Hiiragi meninggikan suaranya.

Disaat yang sama, tubuhnya bergerak ke depan.

Dia tersandung.

Semuanya terjadi dalam slow motion, seperti adegan dalam film. Aku bisa melihat rambut Hiiragi berayun ketika tubuhnya terus bergerak ke depan.

Dia akan jatuh!

Aku secara refleks mengulurkan tanganku dan menangkap tangan Hiiragi. Aku bisa merasakan seluruh berat tubuhnya menggunakan tanganku.

Berat tubuhnya memberikan kesan nyata dibandingkan dengan Tokiko yang tidak memiliki massa.

Aku mempusatkan kekuatan ke lenganku dan menarik Hiiragi untuk mengembalikan keseimbangannya, membuat dunia kembali ke kecepatan biasanya.

"... Ma-maaf!" Hiiragi berbalik ke arahku, tersipu malu. "Aku tersandung... Sebenarnya, aku baru saja membeli sendal ini, jadi... aku belum terbiasa memakainya..."

"Ah, umm, iyah..."

"Aku berat, ya kan? Aku minta maaf..."

"Tidak, kau tidak berat..." jawabku sambil gelagapan karena kelembutan tangan Hiiragi yang masih belum ku lepaskan.

Saat ini musim panas, tapi jarinya dingin dan adem. Tangannya menggenggam tanganku dengan lemah. Berlawanan dengan tangan pria sepertiku, telapak tangan Hiiragi bundar dan lembut.

Dan selagi aku berpikir,

"Ayo..."

Hiiragi mulai berjalan.

Dengan tangan kirinya masih menggenggam tangan kananku.

Aku pun bingung.

Saat ini, aku berjalan bergandengan tangan dengan Hiiragi.

... Kenapa?

Kenapa Hiiragi tidak melepaskan tanganku?

Biasanya, laki-laki dan perempuan yang hanya berteman tidak berjalan bergandengan. Apa dia mempunyai suatu tujuan? Atau karena dia tidak punya cukup pengalaman dengan orang-orang jadi dia pikir ini normal...?

Kekurangan sedikit petunjuk, aku mencoba melirik ke wajah Hiiragi yang sedang berjalan di sampingku.

Namun, dia menunduk ke bawah dan rambut hitamnya menutupi parasnya, jadi aku tidak bisa melihat.

Aku tidak bisa mengerti kenapa dia melakukan itu.

Dan lagi, kesenangan mulai meluap di dalam dadaku.

Sebuah kebahagiaan yang menjengkelkan muncul dari telapak tangannya padaku.

Tidak peduli apa yang sebenarnya ia pikirkan, ketika kita mulai berjalan bergandeng tangan, saking senangnya aku sampai bisa terbang. Aku mulai serius berpikir kalau aku tidak membutuhkan apapun selain hal itu, sama seperti lirik di lagu cinta murahan.

Tetap saja, kenapa yaa.

Di sisi lain euforia tak berujung ini, aku juga merasakan perasaan yang dingin.

Perasaan aneh yang sama dengan yang kurasakan di kelas sebelumnya.

Rasanya ada sesuatu yang berbeda, bahwa ada sesuatu yang mulai menyimpang dari yang seharusnya.

Dan perasaan itu lebih jelas dibandingkan dengan yang kemarin.

... Mari berhenti memikirkan hal itu sekarang.

Aku sedikit menggelengkan kepalaku, lalu melihat ke depan.

Tujuan kita ada di daerah perumahan, yang saat ini damai di awal musim panas.

Langit biru menyebar seperti cat air, dengan beberapa awan di sana-sini. Matahari menyinari bangunan dan aspal, membuat semuanya terlihat bersinar dan berkilau.

Dan di tangan kananku, aku merasakan tangan Hiiragi.

Saat ini, aku sendirian dengan Hiiragi. Kita berjalan bergandengan tangan.

Aku tidak ingin ada kecemasan yang tidak dibutuhkan merusak semua itu.






"Wow..."

Sedikit berjalan dari taman. Aku mengungkapkan kekagumanku saat kita melangkah ke dalam kafe.

Meja dan kursi kayu dengan desain lucu berjejer di lantai kayu. Di sisi pintu masuk ada koridor terbuka yang menampilkan pemandangan pepohonan hijau di taman.

Pilar-pilarnya memiliki goresan yang tak terhitung jumlahnya, dan di sudut ada rak buku dan meja tua, membuatmu ingat kalau sebelumnya ini adalah rumah. Tampaknya kafe ini sangat populer karena hampir semua kursi dipenuhi oleh gadis muda. Untungnya, kita menemukan kursi kosong di konter.

Setelah duduk di salah satu kursi tinggi, aku lihat ada buku-buku berserakan di depanku. Sebuah mahakarya oleh penulis dari era Meiji, album foto dari seorang fotografer terkenal, kompilasi komentar tentang pemain yang berbeda, dll..

"Seperti yang kuduga, kafe ini punya suasana yang menyenangkan..."

Setelah memesan kopi dan kue, Hiiragi mulai melihat buku-buku dengan mood yang bagus.

“Kau bisa membaca buku apa pun di kafe sesukamu. Cari juga buku yang kau sukai, Hosono-kun... ”

"Iya."

Sebagai permulaan, aku mengambil album foto di depanku. Sang fotografer mengambil foto setiap hari selama setahun kemudian mengumpulkan semuanya. Ada beberapa foto yang indah dan menarik, tapi aku terlalu teralihkan oleh Hiiragi di sebelahku untuk bisa berkonsentrasi melihat ini.

"... Ngomong-ngomong," Hiiragi memulai tepat setelah kita menerima kopi yang kita pesan, matanya masih tertuju pada buku di tangannya. "Umm ... aku sedikit penasaran."

"Tentang apa?"

"Apa Sudou-san dan Shuuji-kun punya seseorang yang mereka pacari saat ini...?"

Jantungku berdebar-debar, terkejut.

Kenapa dia menanyakan itu sekarang? Apa jangan-jangan dia mulai tertarik pada Shuuji?

"A-aku tidak bertanya dengan maksud seperti itu..." tambah Hiiragi, mungkin dia juga berpikir apa yang dia katakan terlalu mendadak. "Hanya saja keduanya terlihat sangat populer, tapi mereka selalu bersama kita... Jadi aku hanya ingin tahu apakah mereka tidak punya pacar... Itu saja."

"... Be-begitu."

Melihat betapa bingungnya dia, mungkin itu yang sebenarnya. Hiiragi tidak akan bisa bertindak dalam situasi seperti itu.

"Mereka berdua tidak berpacaran dengan siapa pun, dan di masa lalu juga, kupikir. Aku menjaga jarak untuk sementara waktu, tapi aku tidak mendengar rumor tentang mereka."

"Eeeh, itu tidak terduga..."

"Rupanya mereka banyak ditembak, tapi... Yahh, mereka agak tulus dan serius, jadi mereka tidak akan menerima seseorang begitu saja."

"Begitu ..." tambah Hiiragi, "Lalu, u-umm..."

"... Ya?"

"... Apa kau pernah berpacaran dengan seseorang, Hosono-kun?"

Dia mengubah targetnya menjadi diriku.

"Apa kau pernah menyukai seseorang? ... Ah, mungkin kau bahkan punya pacar... Kalau begitu, aku minta maaf telah mengajakmu. Walaupun kau tidak punya pacar, jika kau punya seseorang yang disukai... aku minta maaf..."

Hiiragi sedikit berantakan. Dia masih pembicara yang buruk.

Tapi…

"Seseorang yang aku suka, yah..."

Bagaimana aku harus menjawabnya?

Aku tidak pernah berpacaran dengan siapa pun, aku juga tidak pernah menyukai seseorang dengan serius.

Yang berarti, sampai beberapa minggu yang lalu, ketika aku menyadari aku menyukai Hiiragi.

Aku yakin dia hanya bertanya karena penasaran. Jadi dia seharusnya tidak mengharapkan jawaban yang serius.

Namun, jika aku menjawab kalau aku punya seseorang yang ku sukai, dia mungkin akan masuk ke mode mak comblang dan menyemangatiku. Di sisi lain, berkata tidak ada pasti terdengar bohong. Seseorang yang tidak berpengalaman sepertiku tidak memiliki cara untuk mengetahui jawaban yang benar.

Setelah berpikir serius selama sekitar sepuluh detik, aku menjawab.

"... Tidak, aku tidak pernah jatuh cinta."

Aku memilih untuk berbohong.

"Aku tidak pernah berpacaran dengan siapa pun sebelumnya, ataupun sekarang... Malahan, apa aku kelihatan begitu?"

"Tapi aku pikir kau bisa dapat pacar dengan mudah... kalau begitu, kau tidak mau pacaran? Kau tidak tertarik dengan romansa...?"

"... Tidak, aku tidak bilang... begitu."

"Kalau begitu, apa menurutmu suatu hari kau akan berpacaran?"

"Yahh begitulah…"

"Begitu…"

Aku mencapai batasku.

Jika dia bertanya lebih dari itu, aku akan mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak kukatakan.

“Bagaimana denganmu, Hiiragi?” Kataku untuk mencegahnya mengajukan pertanyaan lain. "Apa kau pernah jatuh cinta atau berpacaran dengan seseorang?"

"Tidak," kata Hiiragi dengan nada yang tak terduga jelas. "Atau lebih tepatnya, kau seharusnya tahu itu. Itu ditulis di ‘Usia 14 Tahun ', bukan? Kalau aku tidak pernah merasakan jatuh cinta..."

"Yahh begitulah…"

Seperti yang dia katakan, aku tahu itu. Tidak ada satupun tentang dirinya yang tertarik pada laki-laki.

Namun,

"... Tapi, itu sampai kau berusia 14 tahun, bukan?" Kataku gugup.

Entah kenapa, Hiiragi membuang muka, bingung.

"Jadi... Bagaimana setelah itu... Atau baru-baru ini──"

"Ah, maaf!" kata hiiragi menyelaku sambil buru-buru mengeluarkan smartphone-nya dari sakunya. “Se-seseorang menelponku! Aku pergi sebentar!"

"Ba-baiklah..."

"M-maaf, meskipun kita sedang berbicara!"

Hiiragi berdiri dengan tergesa-gesa untuk pergi ke toilet di belakang.

Namun, aku melihatnya. Kalau layar ponselnya tidak menampilkan adanya panggilan masuk.

"Whoah!"

Mungkin karena tergesa-gesa, kaki Hiiragi terkait ke kursi.

Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh di punggungku.

“M-maaf! Aku tersandung... lagi..."

"Tidak, aku baik-baik saja... Berhati-hatilah agar tidak melukai dirimu sendiri..."

"Aku sangat menyesal…"

Wajahnya merah terang, dia membenarkan postur tubuhnya, lalu berlari pergi ke toilet.

Kalau aku, sambil melihatnya pergi aku sangat gelisah oleh sensasi yang kurasakan di punggungku.

Saat dia jatuh ke punggungku, aku merasakan dua benda bundar di bahuku...

Itu... iya, aku yakin itu dadanya Hiiragi.

Dalam manga dan novel, mereka selalu berbicara tentang betapa lembutnya dada, tapi yang pertama kali aku rasakan adalah kepadatan bra. Kemudian setelah itu, aku merasakan tonjolan lembut yang tersembunyi di balik kain tebal.

Jika aku harus menggambarkannya, maka Hiiragi adalah tipe yang ramping. Lengan bagian atas dan kakinya seperti model, Sudou bahkan berkata dia sangat iri dengan tubuhnya.

Tapi, ternyata dia memiliki payudara lebih besar walaupun bertubuh ramping.

"... Apa yang kupikirkan..."

Saat ini aku sedang berada di sebuah kafe kuno yang menawan. Tidak peduli betapa bahagianya diriku bahwa gadis yang ku suka menekan dadanya padaku, ini bukan tempat yang bisa membuatku berpikir begitu.

Untuk menenangkan diri, aku minum semua kopi dalam cangkir sekaligus.

Ketika melihat ke arah toilet, aku bisa melihat Hiiragi berusaha untuk terlihat seperti dia sedang menelpon sambil bertingkah seolah ia sedang berbicara dengan seseorang.






Kita membaca buku, beristirahat dan mengobrol sedikit, lalu membaca buku lagi. Tiga jam kemudian, kita keluar dari kafe.

"Umm, terima kasih untuk hari ini... Itu menyenangkan..." kata Hiiragi di stasiun, saat kita berada di tempat berpisah, membuatku gelisah.

Apa aku tidak mengacau? Berkat saran Sudou dan Shuuji aku bisa terus melanjutkan obrolan, tapi... aku harap aku tidak membuatnya bosan.

"Eto... Maaf, pada akhirnya aku hanya mengikutimu..."

"Eh!? I-itu tidak benar!" Seru Hiiragi, menggelengkan kepalanya. "Justru aku yang seharusnya meminta maaf... Aku selalu membuatmu mendengarkan keegoisanku... Tapi... kalau kau tidak keberatan..." Hiiragi melihat wajahku dengan gelisah, "Apa kau ingin pergi bersamaku lagi...?"

Jantungku berdetak kencang.

Aku tahu itu pergi yang "seperti itu", yang tidak mungkin dia punya niat begitu. Namun, bagiku yang jatuh cinta dengan Hiiragi, kalimat itu sangat mengguncangku.

Dan sekali lagi, aku merasakan ketidaknyamanan di dadaku.

Aku jelas merasa bahwa ada sesuatu yang mulai menyimpang dari yang seharusnya.

Meskipun yang ada di hadapanku adalah Hiiragi, aku merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tidak kukenal, bahwa ada makhluk aneh di hadapanku. Aku merasakan kesepian yang tidak bisa dipahami.

"Juga, umm... eto..." Hiiragi melihat ke bawah, tampaknya ragu untuk mengatakan apa yang dia inginkan, tetapi dia melanjutkan. "Kalau bisa, aku punya sesuatu yang penting yang ingin aku bicarakan besok..."

"… Sesuatu yang penting?"

"Iya. Jadi jika kau punya waktu, aku akan senang jika kita bisa berbicara sepulang sekolah...”

“... Begitu, mengerti. Aku akan meluangkan waktu sepulang sekolah."

"Terima kasih..." kata Hiiragi, tersenyum dengan wajahnya yang memerah. "Kalau begitu, sampai jumpa besok."

Hiiragi melambaikan tangannya dan pergi. Ketika aku melihatnya pergi, rasa tidak nyaman di dadaku menjadi cukup jelas sampai-sampai aku tidak bisa mengabaikannya lagi.






Aku ingin tahu apa itu…

Malam itu, aku merasa khawatir tanpa henti di tempat tidur.

Ketidaknyamanan yang ku miliki terhadap Hiiragi dimulai dari beberapa hari yang lalu, dan tumbuh setiap harinya.

Jika aku harus memberi contoh, itu seolah-olah kau berjalan, lalu tiba-tiba kau sadar berada di tempat yang asing dan mulai merasa tidak nyaman dan kesepian. Ini pertama kalinya aku merasa seperti itu pada seseorang.

Mungkin itu hanya karena cintaku padanya bertepuk sebelah tangan.

Mungkin aku cemas telah melakukan sesuatu yang buruk dan dibenci?

Aku pikir ada juga itu. Aku berhati-hati tentang semua yang ku lakukan ketika aku bersamanya. Setelah kita berpisah, aku terus menyesali tidak melakukan ini atau itu lebih baik lagi.

Tetapi apa yang aku rasakan bukanlah kegelisahan dengan sedikit kebahagiaan, ketidaknyamanan di dadaku dipenuhi dengan murni rasa cemas.

Kalau begitu pertanyaannya, tentang apa dari Hiiragi yang membuatku merasa cemas? Aku tidak tahu jawabannya.

Selagi aku berpikir, aku mendengar orang berbicara di lantai bawah. Sepertinya ada seseorang berkunjung.

Kemudian, sama seperti yang terjadi sebelumnya, langkah kaki terdengar naik ke atas sampai ke depan pintuku.

"Yo, Hosono."

"Ketuk pintu dulu la sialan..."

Orang yang membuka pintu adalah Sudou yang berpakaian polos.

"Hei, tidak apa-apa, kita teman ini."

"Mau teman atau bukan, kau harus mengetuk dulu... Ngomong-ngomong, ada apa larut-larut begini?"

Melihat jam di dinding, sudah lewat jam 9 malam. Sudah agak terlambat bagi seorang gadis SMA datang ke rumah seseorang yang dikenalnya.

"Yahh... Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, atau lebih tepatnya memeriksa..."

Sudou memasuki kamarku, lalu menutup pintu. Pada awalnya aku pikir dia ingin mendengar tentang kencan hari ini, tapi aku perhatikan ekspresinya sangat serius, jadi aku bersiap-siap.

"Sesuatu yang ingin kau periksa?"

"Ya... Sebenarnya, aku masih sedikit bingung..."

Sudou duduk di sisi meja kecil dan mulai mencari sesuatu di tasnya.

Kemudian, setelah menemukannya, dia mengambilnya dan memberikannya padaku.

"Kau tahu ini... kan?"

Aku kehilangan kata-kata.

"Aku baru tahu hari ini, tapi..."

Alasannya sederhana.

Itu karena benda yang ada di tangan Sudou adalah──

"Kau tahu novel ini, bukan?"

Sampulnya adalah ilustrasi seorang gadis SMP.

Judulnya ditulis dengan desain sederhana.

Selama setahun terakhir aku membacanya berulang kali, novel yang langsung mengubah hidupku.

Itu adalah "Usia 14 Tahun".









──Dunia hanya membuat satu janji untuk kita. Aku sedikit menantikan hari dimana janji itu terpenuhi.

(Usia 14 Tahun/Hiiragi Tokoro - Edisi Machida)