[OLI Fan Translation] Eromanga-sensei Volume 9


“Hari libur Izumi Masamune”: hari kedua.

8 Agustus. Senin, 23:30.

Di kamar lamaku, aku pergi tidur. Setelah kerja keras yang lama, sekarang kamarku kurang lebih sama seperti sebelumnya.

Elf lah yang mengusulkan ini. Aku setuju dengannya karena tinggal bersama di kamar yang sama dengan pacar baruku akan sangat buruk.

Jadi, Elf dan Muramasa-senpai kembali tinggal ke rumah Elf mulai hari ini.

"Naskahku juga dalam bahaya."

"Aku akan tinggal di rumah Elf musim panas ini; hubungi aku jika kau butuh bantuan."

Kata mereka sebelum pergi. Aku sangat tersentuh.

Mereka masih bersikap seolah semuanya biasa saja - tapi aku tahu itu tidak mungkin. Meskipun jika aku berada di posisi mereka, aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama.

- Besok aku harus kembali bekerja. Aku harus melakukan yang terbaik -

Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan, tapi sulit saat benar-benar melakukannya.

Baru-baru ini, aku menembak perempuan yang aku cintai...dan kami mulai pacaran....

"Yahhh...."

Setiap kali aku memikirkan saat itu, aku merasa seperti ingin pingsan.

Aku ingin meneriakkan nama Sagiri. Aku tidak akan bisa menahan diri jika aku mengirim pesan ke Sagiri sekarang.

"Berpacaran dengan perempuan...apa yang harus kulakukan... Mungkin aku harus meminta saran pada orang lain...!"

Tiba-tiba, Kusanagi-senpai mengirimiku pesan.

"Izumi, datanglah ke rumahku besok."

"Hah? Ada apa?"

"Aku juga sudah memanggil Shidou."

"Apa terjadi sesuatu?"

"Apa kau harus banyak tanya?"

"Yah, itu mencurigakan."

"Aku pernah membantumu menulis cerita kolaborasi Pure Love dan Sekaimo, jadi giliranmu untuk membalasku."

"Hah? Tapi dua hal itu sangatlah berbeda! Kau hanya berusaha untuk terlihat baik!”

“Belakangan ini kau sangat sibuk, bukan? Keluar dan bermainlah."

"Kuh..."

Kenapa aku harus bermain dengan laki-laki, bukan pacarku?

Tapi...mungkin ini kesempatan bagus bagiku berbicara dengan rekan kerja sesama lelaki. Dan Shidou-kun juga mungkin ada di sana.

Aku memikirkannya lalu menjawab:



"Aku harus pergi ke kantor departemen editorial malam ini, jadi aku tidak bisa terlalu lama. Seperti itu tidak apa-apa?"

"Bagus! Kalau begitu datanglah ke rumahku jam 1 siang."



*Ngung*. Dia mengirimku alamat rumahnya. (note: suara notifikasi masuk)

..Wow, Kusanagi-senpai tinggal di daerah sultan.



Itu sebabnya, keesokan harinya, aku pergi ke daerah Shinjuku di mana Kusanagi-senpai tinggal.

Daerah ini sangatlah modern, dirancang oleh seorang arsitek terkenal. Jika sebelumnya aku tidak pergi ke rumah Makina-san aku akan merasa sangat tertekan.

Aku memanggil Kusanagi-senpai dari pintu depan gedung apartemen. Kusanagi-senpai membukakan pintu otomatisnya untukku.

Aku pergi ke kamarnya dan melihatnya ada di pintu.

"Yo, kau datang juga."

Suara rendah dan galak. Pakaian hitam. Rambut pirang. Orang yang terlihat seperti anggota party FF XV adalah Kusanagi Ryouki. Dia adalah seniorku; novelnya yang terkenal adalah novel komedi romantis berjudul "Pure Love"

Rambutnya berantakan, jadi kurasa dia baru saja bangun dari tempat tidur. Dia berkata dengan nada mengantuk:

"Masuklah. Shidou belum datang."

Ada banyak sepatu di pintu masuk. Dia mendecakkan lidahnya karena suatu alasan dan mengatur sepatu itu kembali sehingga aku punya tempat untuk menaruh sepatuku.

Aku menyimpan sepatuku dan mengikutinya lebih jauh ke dalam apartemen. Ada sesuatu yang mencurigakan di jalan. Itu terlihat seperti rak yang ditutupi kain.

"Apa itu?"

“Rak figur pajanganku. Akan merepotkan jika ada perempuan yang melihatnya, jadi biasanya aku menyembunyikannya.”

“………….”

Lalu apa yang akan kau lakukan jika dia menanyakannya?

Aku pikir ini masalah bagi semua otaku: sulit membawa seseorang yang lawan jenis ke kamarnya sendiri. Akan sangat bagus jika pacarku juga seorang otaku!

“Ada banyak sepatu di pintu. Apa ada seseorang disini?"

"Kurang lebih."

Kurang lebih...mencurigakan...

Tetapi kecurigaanku dengan cepat terjawab.

Di depanku, Kusanagi-senpai tiba-tiba berkata "Hei!" dan membuka pintu seperti seorang rentenir yang datang untuk mengambil uangnya.

Di balik pintu, memang ada beberapa orang yang tidak aku kenal. Mereka laki-laki, mungkin masih SMA atau mungkin sudah kuliah.

Sebagian sedang membaca manga; sebagian sedang bermain video game, dan ada yang sedang merakit garage kit sendirian. (note: garage kit atau figur cewek anime seksi, lengkapnya : https://en.wikipedia.org/wiki/Garage_kit)

Penampilan mereka berkisar dari bertubuh pendek dan berwajah bayi hingga tinggi dan berotot - singkatnya, ada banyak anak laki-laki dengan penampilan berbeda.

“Ah, Nii-san. Apa itu temanmu?"

Tanya bocah lelaki yang sedang merakit garage kit. Dia mungkin temannya adik Kusanagi-senpai.

Yang lain memberi salam pada Kusanagi-senpai dengan “Maaf mengganggu” atau “Senang bertemu denganmu”. Kelihatannya Kusanagi-senpai meneriaki mereka adalah hal yang biasa, tidak ada yang bereaksi lebih dari itu.

Melihat bagaimana mereka bersikap, Kusanagi-senpai menendang tempat sampah terdekat:

"Keluar! Bocah tolol! Jangan ngumpul terus disini!"

"Tapi ada event di dekat sini."

"Butuh waktu lama untuk kami datang kesini ~"

"Yaa ~"

“Bodo amat! Ke! Lu! Ar! Sekarang liburan musim panas, tapi kalian itu masih sekolah! Pulang sana terus baca buku atau apalah!”

"Tapi Nii-san, bukannya kau juga NEET?"

"Sudah kubilang aku bukan NEET!"

"Kalau begitu kau pasti bohong saat bilang kau itu seorang penulis light novel."

"Aku hanya akan percaya jika kau membiarkanku menemui Yamada Elf-sensei."

"Mau gimana lagi lah kalau gitu. Ayo pulang."

"Yeah yeah."

Satu per satu, mereka meninggalkan kamar.

Di sisi lain, aku jadi mengerti terhadap situasi ini. Situasi ini disebut -

"Pergi ke rumah temanmu saat liburan musim panas, tapi diusir oleh kakaknya yang menakutkan."

Itu hal yang biasa saat liburan musim panas, tapi aku tidak pernah mengira aku berada di sisi sang kakak kali ini. Ini...membuatku sedih.

"Dasar..bocah-bocah...mereka berantakin kamar dan pergi."

Gumam Kusanagi-senpai dan mulai membersihkan. Aku menawarkannya bantuan.

Melihat ke sekeliling, kamar ini ternyata bagus juga. Disini bahkan ada lampu-lampu yang terlihat keren.

Namun...disini ada rak manga/light novel, gitar, bass, figur, gunpla dll... di mana-mana. Meskipun barang-barang itu disembunyikan sementara, jelas bahwa pemiliknya tidak mungkin mengundang cewek ke kamar ini.

(note: Gunpla = model Gundam Plastik)

"Lumayan."

"Ya. Aku pindah ke sini saat animeku dimulai."

Dia mengatakan sesuatu yang mirip seperti Elf.

Itu benar.... setelah karyaku diadaptasi menjadi anime.... aku harus banyak berpergian. Pergi ke perusahaan penerbit, kantor departemen editorial, perusahaan anime... akan sulit jika aku tinggal terlalu jauh.

“Jadi, kenapa kita berkumpul hari ini? Kau bilang karena kau ingin bermain sesuatu, tapi apa alasan sebenarnya?"

“Aku akan memberitahumu setelah Shidou tiba. Mau kopi?"

"Tolong"





Tidak lama setelah itu, Shidou pun tiba. Aku mengangkat tangan untuk menyapanya.

"Lama tidak bertemu, Shidou-kun."

"Lama tidak bertemu, Izumi-kun."

Pria muda yang tampak cerah ini adalah Shidou Kunimitsu. Dia adalah junior yang lebih tua dariku: saat ini seorang mahasiswa. Ceritanya berpusat tentang manisan.

"Sepertinya anime membuatmu sangat sibuk."

“… .Aku berhasil menyelesaikannya; sekarang terserah tim produksi anime."

"…Begitu."

"Iya."

Meskipun aku bisa membantu sedikit selama rapat mingguan, sekarang tidak banyak yang bisa kulakukan.

Aku hanya bisa mempercayakan semuanya pada tim produksi anime dan mempersiapkan diri untuk membantu mereka jika diperlukan. Untuk saat ini, aku bisa santai dengan pikiran kalau aku melakukan yang terbaik.



Kami berkumpul di sofa dan minum kopi sambil berbicara.

"Jadi, bagaimana kabarmu baru-baru ini, Shidou-kun?"

"Eh? Izumi-kun tidak tahu? Aku akan menerbitkan cerita baru di akhir musim panas ini." katanya dengan ekspresi bangga.

"Eh? Begitukah? Selamat!"

"Ahahah, terima kasih!"

"Shidou, apa cerita barumu sama dengan yang kau tulis saat Turnamen Light novel Dunia?"

"Benar, benar! Akhirnya ~~~~ Aku bisa menerbitkannya! ”

Sudah lama sejak ia mulai menulis cerita itu. Selama waktu itu, ia harus bersabar naskahnya diperbaiki berkali-kali, dan mengalami kurangnya mood menulis sesekali.

...Tapi pada akhirnya, dia berhasil. Novelnya yang ini merupakan jenis baru baginya, jadi tidaklah mudah untuk menulisnya. Itu sebabnya dia sangat senang.

"Silahkan kalian berdua lihatlah ini! Lihatlah halaman sampulnya...lihat, ini dia!”

Dia menggunakan smartphone-nya untuk memperlihatkan halaman sampul ceritanya.

Baik aku maupun Kusanagi-senpai melihat layar ponsel dan menilai gambar yang kita lihat.

“Oh ~ gambar yang bagus! Sangat keren! Aku pikir ini akan laku."

Itulah yang dikatakan Kusanagi-senpai. Dia bukan seseorang yang akan menutup-nutupi perkataannya, jadi mungkin itulah yang sebenarnya ia pikirkan.

Aku juga mengangguk.

"Shidou-kun, apa ceritamu masih sama dengan cerita pendek yang sebelumnya?"

“Sangat berbeda. Naskahku diperbaiki berkali-kali. Tapi masih ada banyak manisan enak di dalamnya!”

"Begitu."

Masih tersenyum, aku bertanya dengan hati-hati.

"Setelah melihat halaman sampul dan judul novelnya, ada sesuatu yang membuatku penasaran...bisakah aku menanyakannya padamu?"

"Silahkan."

"Cerita baru Shidou-kun itu - Light Novel Loli?"

"Itu benar!"

Shidou-kun dengan cepat memberikan penjelasan panjang lebar.

"Setelah mengalami kenyataan pahit...Aku jadi tahu kalau seorang gadis kecil berkata Tidak apa-apa, tidak apa-apa itu sangat moe! Jadi aku memberi pemeran utama perempuanku karakteristik itu! Dengan kata lain, aku merubahnya dari seorang mahasiswi menjadi seorang loli! Persis seperti itu, ceritaku langsung jadi menarik! Aku tidak perlu lagi harus memperbaiki naskahku berulang kali, semuanya keluar secara alami! Begitulah caraku menulis novel yang sangat mengagumkan...!"

Dia memuji loli dengan senyuman riang.

"Ah! Apakah ini yang mereka sebut dengan memperoleh jati diri baru? Intinya, aku menemukan tujuan baru dalam hidupku!"

Apa orang ini mabuk lagi!?

“Apa yang harus kita lakukan, Kusanagi-senpai! Junior kita menyusuri jalan yang tidak bisa kau kembalikan!"

"Jangan bicara seperti ini tidak ada hubungannya denganmu! Semua ini terjadi karena kau memperkenalkannya pada bocah SD!"

"Salahku?"

"Tentu saja!"

Kusanagi berteriak dan menunjuk wajahku. Dia menyeringai:

"Tapi ini bukan masalah besar, ya kan? Berdasarkan gaya menulis Shidou dan protagonis perempuan loli, aku bisa bilang kalau novel ini merupakan kombinasi yang luar biasa bahkan tanpa membacanya."

"Izumi, seorang penulis bisa mendapatkan banyak manfaat dari membangkitkan minat baru."

Orang ini sudah tidak bisa diselamatkan.

“Hei, kenapa kau mundur sambil membuat ekspresi orang ini sudah tidak bisa diselamatkan? Menilai dari halaman sampulnya saja bukanlah sesuatu yang biasanya kau lakukan."

"Itu bukan karena halaman sampulnya: itu sebagian besar karena apa yang Shidou-kun katakan setelahnya."

Haruskah aku berkata kalau dia kemungkinan seorang lolicon? Tapi itu sangat menjijikkan!

“Dengarkan aku, Izumi-kun. Novel baruku itu sifatnya keibuan."

"Tapi itu light novel loli !?"

“Gini ceritanya. Anggap saja begini: Aku tidak tahu apakah aku bisa bergaul dengan seorang perempuan yang lebih tua...."

Karena itu sangat merepotkan, izinkan aku melewati ini.

Shidou-kun berkata:

"Bukankah menurutmu luar biasa ketika seorang gadis kecil tiba-tiba memintamu memanjakannya atau dia meminta memanjakan dirimu?"

"Sebenarnya, aku melakukannya."

Itu sesuatu yang kusukai dari Sagiri.

Tapi kalau Sagiri, itu lebih ke "orang yang dapat dipercaya" daripada "keibuan".

Aku mengangkat tangan kananku.

"Kau mengerti, bukan!"

Shidou-kun memegang tanganku. Kita berjabat tangan.

"...Itu luar biasa."

"...Memang."

Aku pikir ini pertama kalinya aku setuju dengannya tentang selera kita pada wanita.

Melihat itu, Kusanagi-senpai menyipitkan matanya.

"Shidou.... eto...aku mengerti rasa antusiasmu...tapi halaman sampul ini...apa ini digambar oleh mangaka loli yang terkenal?"

"Luar biasa bukan? Aku sudah membeli dan membaca manga yang digambar olehnya!" Kata Shidou-kun sambil terlihat percaya diri.

"Itu bukan maksudku. Apa yang ingin kukatakan adalah, ini sama saja dengan meminta pengarang D*agon Ball menggambar ilustrasi untuk light novel fighting. Apa itu baik-baik saja? Kecuali ceritamu sangat bagus, orang-orang akan berkata 『 Lebih baik ilustratornya saja yang menulis ceritanya 』, kau tahu?"

"Novel ini sangat bagus, jangan khawatir!"

Apa dia sepercaya diri ini di masa lalu?

Kusanagi-senpai memegang bahuku dan berbisik:

"Aku belum membacanya, tapi perasaanku bilang begitu.... novel ini akan terjual laris."

"Kupikir juga begitu."

"Aku tidak bisa menerimanya, jadi sebelum Shidou kembali ke kesadarannya, ayo kita bikin masalah untuknya. Bagaimana kalau kita membuat berita di artikel online kalau dia itu lolicon?"

"Editorku sama dengannya, serahkan saja padaku."

"Bagus, aku serahkan padamu...!"

Eto...begitulah kita para senior peduli pada junior kita. Kita mengiklankan novelnya. Kita tidak punya motif apapun. Meski masa lalu yang memalukan ini mungkin saja membawa kesengsaraan di masa depan saat media mengetahui hal ini, apa yang dia katakan akan menjadi bahan interview yang bagus.

Ngomong-ngomong, lolicon sungguhan punya cara untuk mengetahui siapa lolicon yang palsu.

"Apa yang kalian berdua bicarakan?"

"Bukan apa-apa - oh, benar. Karena Shidou sudah disini, biarku beritahu alasan sebenarnya kenapa aku memanggil kalian berdua."

"Sudah kuduga!" *2

Baik aku maupun Shidou-kun berkata di waktu yang bersamaan.

"Dan...yah, apa kalian sudah menyiapkan mental untuk hal ini?"

"Kita harus menyiapkan mental untuk hal itu?"

"Kau bisa menganggapnya cerita hantu. Sangat seperti musim panas, bukan?"

"Cerita hantu, kah."

"*Gulp*"

Baik aku maupun Shidou-kun terkejut.

Dengan suara rendah yang biasanya, Kusanagi-senpai perlahan-lahan mulai berbicara:

"Ini terjadi padaku beberapa hari yang lalu..."

"Tungu, maksudmu itu sungguhan terjadi?"

Dia bilang "Iya, ini benar-benar nyata."

".... Tolong, jangan ceritakan kisah yang berakhir pendengarnya terkena kutukan."

Mungkin dia takut sama hantu, jadi wajah Shidou-kun sudah pucat. Membayangkan kalau ini sama dengan lolicon yang tidak menyukai wanita yang lebih tua

"Biarku lanjutkan...Malam itu, di suatu bar di depan stasiun Shinjuku, aku bertemu perempuan yang katanya dia berumur 24 tahun. Akan tetapi berdasarkan pemindai milikku, dia sebenarnya 27 tahun. Dia punya dada yang besar dan bra hitam."

"Apa kau harus menggambarkan bagian itu dengan detail?"

"Iya, karena itu sangat penting. Kemudian...setelah kita berbagi minuman, percakapan kita berlanjut...sampai aku berhasil meminta nomor teleponnya."

"Yeah yeah."

"Setelah itu, kita mengucapkan selamat tinggal. Aku kembali ke rumah sendirian."

"Berarti kau gagal berhubungan dengannya?"

"Tidak! Pertarungannya baru saja dimulai! Kemampuanku baru bersinar sekarang!"

Sungguh?

"Jadi, bagian mana dari cerita ini yang horornya?" Shidou-kun memiringkan kepalanya dan bertanya.

"Sabarlah! Aku akan menceritakan intinya sekarang. Siap?"

Kita mengangguk sekali.

Kusanagi-senpai batuk sekali, kemudian melanjutkan:

"Setelah aku pulang...tengah malam saja belum. Aku sedikit mabuk, tapi aku masih berpikir kalau aku harus menghubungi perempuan itu sebelum tidur, jadi aku mengirimnya pesan."

Aku mulai bertanya-tanya kapan dia akan menceritakan intinya...

"Dan nama perempuan berumur 27 tahun itu adalah 『 Aya 』" (note: referensi nya di volume 6 chapter 2)

"Ah...." *2

Tiba-tiba aku merasakan hawa dingin di punggungku!

"Ja...jangan-jangan...kau mengirim pesan ke bocah perempuan SD 『 Aya-chan 』?"

"Kau mengirim pesan ke orang yang salah!?"

"...Iya."

"SEREMMMMMMMMMMMMMMMMMM!!" *2

Ini pertama kalinya aku mendengar cerita sehoror itu.

"Kau, kau, pesan macam apa yang kau kirimkan?"

"Aku punya screen shot nya."

[OLI Fan Translation] Eromanga-sensei Volume 9


(note: saya gatau detailnya, tapi intinya Kusanagi pingin lihat bh Aya-chan.)

Aku melihatnya dan membuat kesimpulan:

"Kau sudah tamat."

"Kau juga berpikir begitu?" Dia memaksakan tersenyum. "Aku baru sadar apa yang baru saja kulakukan besok paginya. Aku dalam masalah besar."

Di sebelahku, Shidou-kun bertanya:

"Foto? Kau dapat fotonya?"

"Jika dia mengirimkan fotonya, aku akan tertawa sekarang."

Untungnya, Aya-chan masih punya akal sehat.

"Jadi, apa kau menyelesaikan kesalahpahaman itu?"

"Tidak, belum."

"Apa?"

Kusanagi-senpai memperlihatkan pesan yang isinya jawaban Aya-chan.

"Kalau begitu, aku akan datang ke rumahmu besok."

"..............."

"......................"

Ah...sekarang aku mengerti.... Jadi ini memang cerita horor yang akan mengutuk pendengarnya.

Tiba-tiba - bel pintu berbunyi. Baik aku maupun Shidou-kun dipaksa harus menahan kehororan yang sama dengan Kusanagi-senpai saat itu.

Kemudian sang pelakunya - Kusanagi-senpai - di depan kita, dia -



"Jadi kau mengirim pesan itu ke orang yang salah? Aku mengerti ♪"

Dua perempuan berseragam SD berdiri di hadapan Kusanagi-senpai, yang sedang berlutut di lantai.

Kelihatannya Aya-chan meminta teman sekelasnya untuk datang bersamanya. Bukan berarti bocah SD juga bisa datang ke rumah orang 20 tahun keatas sendirian.

"Hm, pokoknya, aku sudah tahu kalau itu bisa saja masalahnya! Oh ~~~"

Perempuan yang marah dengan situasi ini adalah temannya Aya-chan, Megumi. Dia gadis berkacamata dan memiliki kening yang lebar. Sekarangpun, dia masih bersiap-siap untuk menyalakan alarm darurat miliknya kapan saja. Menakutkan.

"Aku sangat minta maaf."

[OLI Fan Translation] Eromanga-sensei Volume 9


Kusanagi-senpai hanya bisa terus membungkuk dan meminta maaf. Di saat yang sama, Aya-chan berteriak "Muh! Mwu!" dan terus memukul kepalanya.

Situasi ini sangat buruk. Satu salah langkah saja akan berubah menjadi bencana, dan kita juga mempertaruhkan keterlibatan polisi disini. Cara mereka mengatasi situasi ini sudah cukup tenang.

"Aku sangat minta maaf."

Namun, sangat memalukan melihat seniorku berlutut di depan bocah SD.

Megumi berbalik padaku:

"Apa yang kau lakukan disini, Onii-san?"

"Kusanagi-senpai memintaku datang - katanya dia ingin bertemu denganku."

"Dia tahu hal ini akan terjadi, tapi masih memanggil kita kesini. Ini terlalu berlebihan!"

Bahkan Shidou juga marah. Dapat dimengerti, karena mulai sekarang sangatlah mudah bagi kita terseret ke dalam badai ini.

Meski aku dapat mengerti kalau Kusanagi-senpai mengharapkan pihak ketiga untuk ada disini, tetap saja ini masih merepotkanku.

"Ngomong-ngomong, Megumi, aku tidak mengira kau juga akan datang."

"Bukan masalah. Aku juga punya banyak teman di Shinjuku ~"

Megumi mengeluarkan hpnya dan mendekatkan ke telinganya:

"Oke, semuanya, kalian dengar ~ ini Megumi ~ Terima kasih, aku baik-baik saja - kalian bisa bubar sekarang. Tidak perlu diam di dekat pintu masuk lagi ~ Um ~ ayo pergi lagi kapan-kapan ~"

Dia menutup telepon dan tersenyum:

"Begitulah ♪"

"...Aku mengerti."

Ternyata temannya sudah berkumpul diluar daritadi, bersiap untuk menyerbu...menakutkan. Aku pikir itu normal bagi generasi light novel saat ini untuk memiliki karakter sepertinya.

"Oke, aku memaafkanmu, tapi..."

Selagi kita berbicara, ceramah Aya-chan sudah sampai di akhir.

"Aku punya persyaratan!" Dia mengangkat jarinya.

Sekarang ini semakin menjadi menarik.

Masih berlutut, Kusanagi-senpai mendongak ketakutan:

"Pe, persyaratan?"

"......."

Dari tas kecil ber-mereknya, Aya-chan mengeluarkan light novel dan menaruhnya di depan Kusanagi-senpai.

“Anata ga Naku made Fumu no wo Yamenai! (Aku Tidak Akan Berhenti Menginjakmu Sampai Kau Menangis!, Aku Tidak Akan Melepaskan Kakiku Sampai Kau Menangis!)”

[OLI Fan Translation] Eromanga-sensei Volume 9


Penulis: Eiji Mikage. Ilustrasi: Nyanya

Dengeki Bunko

"Kau, kau...! Apa kau sedang mencoba menghancurkan harga diriku...?"

Kusanagi-senpai mulai gemetaran.

"...Sampai seberapa jauh dia akan melecehkannya? Aku merasa sangat bersemangat...!"

Kelihatannya Shidou-kun ingin menggantikan Kusanagi-senpai.

Di sisi lain, melihat bagaimana dia bereaksi, Aya-chan tersipu:

"Bukan seperti itu! A, apa yang kau pikirkan! Itu....itu...."

Dia mengeluarkan light novel lainnya dan dengan cepat menunjukkannya pada Kusanagi-senpai:

[OLI Fan Translation] Eromanga-sensei Volume 9


"Ro-Kyu-Bu!"


Penulis: Sagu Aoyama, Ilustrasi: Tinkle

Dengeki Bunko

"Hey, gadis yang ingin jadi penulis light novel, bisakah kau berhenti dengan metaforamu?"

"Um, aku sedang menunjukkan perasaan seorang gadis menggunakan light novel..."

"Tapi tidak ada yang memahamimu!"

Tolong gunakan metafora yang lebih mudah. Itulah yang Kusanagi-senpai minta.

"Hm, sepertinya penulis komedi romantis tidak bisa memahamiku. Kalau begitu..."

Untuk yang ketiga kalinya, Aya-chan mengeluarkan light novel lainnya dan menyimpannya di bawah.

[OLI Fan Translation] Eromanga-sensei Volume 9


Ruangan No. 1301. Otonari-san wa Artistic (Ruangan 1301 – Kemampuan artistik Otonari-san)

Penulis : Arai Teru. Ilustrasi: Sacchi

Fujimi Shobo

"Jangan tiba-tiba memperlihatkan informasi yang sangat berharga!"

"Tapi kau bilang aku harus menggunakan metafora yang lebih mudah!"

"Instingku merasakan ketakutan terhadap hal itu. Bagian mananya yang lebih mudah atau sederhana? Beritahu saja aku langsung! Dari mulutmu!"

"Ku, Kusanagi-sensei, tolong bertanggungjawablah."

".............."

Kusanagi-senpai membeku dan menjadi sangat pucat. Dia sedikit gemetaran.

Melihat itu, Shidou-kun perlahan-lahan berkata:

"Begitu.... Ruangan No. 1301 kah"

"Apa kau mengerti, Shidou-kun?"

"Tolong beritahu."

Baik aku maupun Megumi bertanya di saat yang sama. Dia menjawab:

"Itu novel yang ditulis Arai Teru-sensei diterbitkan oleh Fujimi Mystery. Aku tidak bisa memberitahumu versi singkatnya...tapi aku bisa memberitahu kalau di novel ini, di volume selanjutnya, setiap kali karakter perempuan baru dikenalkan, namanya akan mendapatkan Tanda-H."

"Bagus, aku mengerti. Terima kasih banyak."

"Wow, Aya-chan sangat berani."

"Tidak, bukan seperti itu! Aku, maksudku aku cuma ingin dia bertanggunjawab karena telah mengirimku pesan yang aneh!"

Apa bocah ini baru saja mengatakan sesuatu yang luar biasa?

".........."

Bahkan Megumi sangat terkejut dia bahkan tidak bisa mengatakan apapun. Shidou-kun masih berbicara, tapi tidak ada yang memperhatikannya lagi.

"Sudah kubilang bukan seperti itu!" Aya-chan jadi memerah dan hampir berteriak.

Kusanagi-senpai memalingkan matanya, seolah dia ingin lari dari kenyataan.

"Bertanggungjawab - ini kedua kalinya di dalam hidupku aku mendengarnya...tapi seperti biasa itu masih menakutkan."

"Bagaimana kau menyelesaikannya saat pertama kali?"

"Aku meminta bantuan Arai Teru-sensei."

Citra Arai Teru-sensei menjadi sesuatu yang sangat hina.

Sementara Kusanagi-senpai berbicara omong kosong, Aya-chan melanjutkan serangannya:

"Dengarkan baik-baik! Maukah kau bertanggungjawab? Atau gak mau?"

"Apa...kau ingin aku berbuat apa..."

Katanya dengan ekspresi menyakitkan. Aya-chan menunjukkan light novel yang terakhir

[OLI Fan Translation] Eromanga-sensei Volume 9


“Ryuuou no Oshigoto! (Pekerjaan Sang Raja Naga Tidak Pernah Beres!)”

Penulis: Shirow Shiratori. Ilustrator: Shirabi

GA Bunko.

"Tolong jadikan aku muridmu."

Paling tidak aku pikir dia dapat memahaminya kali ini. Kusanagi-senpai menafas lega.

"Aku tidak tahu kalau aku bisa membantumu."

"Aku mengerti maksudmu."

"Aku hanya seorang penulis komedi romantis."

"Itulah sebabnya kau cocok." Aya-chan menundukkan kepalanya dan bergumam "Sebenarnya... novel selanjutnya yang ingin aku tulis adalah cerita komedi romantis juga."

"...Oke. Aku tidak yakin aku bisa jadi gurumu...tapi jika kau butuh saranku mengenai ceritamu, maka aku akan melakukannya. Kalau aku punya waktu luang, tentunya."

"Itu saja sudah cukup! Terima kasih banyak!"

Aya-chan tersenyum cemerlang. Di saat yang sama, gurunya jatuh ke lantai membentuk 大



Setelah insiden "mendapatkan master" itu -

Shidou-kun tinggal dulu di rumah Kusanagi-senpai sementara aku pergi ke stasiun Shinjuku bareng Megumi dan Aya-chan.

Saat aku melihat stasiun aku menyadari sesuatu.

"Ah dasar. Terlalu banyak hal yang terjadi dan aku lupa mau berbicara dengan Kusanagi-senpai."

Namun, aku ragu bisa mendapatkan jawaban apapun yang berguna di atmosfer seperti itu. Bukan berarti situasiku akan jadi lebih baik juga. Megumi berbalik padaku, dan bertanya:

"Apa kau perlu berbicara dengannya mengenai sesuatu?"

"Yeah."

Aku bergumam pada diriku sendiri, tapi entah kenapa dia mendengarku.

Tidak sulit melihat kemana ini akan berakhir, meski begitu aku menjawab pertanyaannya:

"Aku ingin bicara tentang asmara."

"Onii-chan ingin berbicara tentang asmara? Sungguh cerita yang menarik!"

Mata Megumi bersinar. Bahkan Aya-chan terlihat tertarik. Kelihatannya gadis seusia mereka menyukai topik ini.

"Kalau begitu, biarkan master asmara - aku - mendengarkan masalahmu."

Dia terdengar seperti Elf untuk sesaat. Siapa yang lebih baik, master komedi romantis atau master asmara?



................Megumi. Mungkin.



Aku ingin menanyakan tentang kehidupan nyata, bukan sesuatu di dalam novel, lagipula.

"Haruskah aku membicarakan asmara dengan Megumi?"

"Tentu saja kau harus! Ahaha ~ aku sungguh ingin mendengarkan ~ tentang asmara Onii-san ♡"

"Kau baru saja berpikir ini menyenangkan, bukan?"

"Iya memang. Tapi aku akan memberi saran yang benar sebagai tanda terima kasih."

"Hmmm..."

Bagaimana ini? Haruskah aku...bertanya pada Megumi? Dia tahu situasi keluarga kita, dan dia seorang master asmara kata dia sendiri...Mungkin dia pilihan yang bagus.

Meski dia hanya ngaku-ngaku seorang master asmara, dibandingkan denganku, yang belum pernah berpacaran sebelumnya, dia masih merupakan pilihan yang bagus.

"Ano...Sensei! Megumi sudah mendengarkan masalah asmara semua orang sebelumnya...! Dia sangat bisa dipercaya...! Jadi..."

Ketika aku ragu-ragu, Aya-chan memberi sedikit dorongan. Aku sedikit tersenyum dan menjawab:

"Kalau begitu...mohon bantuannya."

"Ehehe, serahkan padaku! Ayo pergi ke suatu tempat yang tenang untuk berbicara!"

Megumi menarik tanganku. Kami mengikutinya ke tempat karaoke di dekat sini.

"Oke, Nii-san, silahkan ceritakan pada kita."

"Tentu..."

Pertama-tama, dia menyuruhku duduk. Kemudian setelah berkomunikasi singkat melalui pandangan mata, mereka berdua duduk di sebelahku: masing-masing di setiap sisiku. Hm, meski mereka masih SD, aku yakin beberapa orang akan cemburu melihat posisiku saat ini.

'Kita tidak akan membiarkanmu pergi'

Itu apa yang kurasakan datang dari mereka.



Setelah Megumi memesan minuman, dia langsung ke intinya:

"Jadi? Jadi? Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Um, sebenarnya..."

Mereka berdua menatapku dengan mata berkilauan, jadi aku langsung saja mengatakannya.

"Aku punya pacar sekarang."

"Wah!"

Aya-chan saking semangatnya sampai-sampai aku pikir dialah yang punya pacar. Di sisi lain, Megumi memegang lututku dan menyondong ke depan:

"Ah? Ara? Bukan seseorang yang kau suka, tapi sudah punya pacar?"

"Iya. Kita berpacaran."

"Wow ~~! Ini...tidak disangka! Aku sangat tertarik!"

"Jangan katakan itu sambil memegangku di tempat yang tidak pantas!"

"Ah, tukang selingkuh! Kau tidak bisa selingkuh padanya!"

Tapi Megumi tidak menunjukkan tanda-tanda membiarkanku pergi. Dia bahkan makin mendekat, tersenyum bahagia.

Aku akan mengatakannya lagi - perempuan sungguh suka membicarakan asmara.

"Me, Megumi, kau tidak bisa! Tidak adil buat pacarnya Sensei!"

"Tidak apa-apa, Aya-chan!" Ucapnya dan memegang leherku menggunakan tangan yang satunya "Di dalam kamusku, hanya ciuman yang bisa dihitung sebagai selingkuh, jadi kalau ini bukan masalah!"

Ini sama sekali BERMASALAH!!

"I, itu bisa dihitung sebagai selingkuh jika kau menghabiskan waktu lebih dari 10 detik sendirian bersama perempuan lain di sebuah ruangan!"

Tidak. Itu terlalu sewenang-wenang!

Mengikuti logikamu sendiri, aku sudah bisa dianggap tukang selingkuh!

Sungguh...ada apa dengan akal sehat anak-anak jaman sekarang? Mereka selalu bersikap berlebihan dengan mudah.

"Jadi, jadi, siapa pacarmu? Tomo-chan - mungkin bukan. Elf-chan? Atau Muramasa-chan? Atau - mungkin Army-chan?"

"Aku akan memberitahumu, lepaskan aku dulu!" Aku hampir memohon padanya.

"Baiklah ~"

Megumi melepaskanku, kemudian dia melepaskan sepatunya dan berlutut di sofa. Tangannya sedikit terangkat menuju diriku.

"Kasih tahu, kasih tahu!"

"*Gulp*"

Aya-chan juga menelan ludah, melihatku.

Mendadak, ruangannya menjadi hening. Aku melihat Aya-chan lagi...batuk sekali, dan berkata:

"Pacarku adalah -"

.... Hanya ini satu-satunya cara aku dapat memberitahu mereka

"Eromanga-sensei."

“Ah – ah ——————!!!” *2

Jeritan wanita hampir meledakkan gendang telingaku.

Meski aku menutupi telingaku kesakitan, kedua bocah SD itu melontarkan pertanyaan demi pertanyaan:

"Eromanga-sensei ....itu..."

Wajah Aya-chan sangat memerah; dia mengatakan nama partnerku sambil kesulitan.

"Maksudku perempuan itu yang dari event Sekaimo - orang yang sangat cantik-" (note: referensi nya di volume 6 chapter 1)

Ah, iya.

Bagi Aya-chan, Eromanga-sensei maksudnya Kyouka-san.

"Wanita mesum yang sangat cantik, ya kan!"

"............."

Aku setengah tersenyum sambil berpikir -

Syukurlah Kyouka-san tidak ada disini.

Selama event itu, Kyouka-san (di umur dua puluhan) memasuki panggung sebagai Eromanga-sensei. Kemudian, sesuai perintah Eromanga-sensei, dia mengenakan seragam pelaut yang erotis, dan dipaksa meneriakkan Eromanga beam. Pasti sulit baginya, tapi berkat hal itu penjualan animenya jauh lebih mudah.

Namun, jelas kalau kebanyakan orang melihatnya sebagai wanita yang mesum. Aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku mengatakan itu padanya, ataupun tahu apa yang harus kulakukan mengenai hal itu.

Tapi satu hal yang jelas: bagi kita bersaudara, Kyouka-san adalah anggota keluarga yang paling kita sayangi.

"Onii-san...Eromanga-sensei...maksudmu..."

Tidak seperti Aya-chan, Megumi tahu kebenarannya. Jadi aku mengangguk.

"Benar."

"Begitu ~~"

Megumi terlihat seperti dia sedang menyusun kembali pikirannya. Kemudian perlahan-lahan dia tersenyum

"Selamat."

"Terima kasih."

Ucapan selamatnya yang tulus terasa seperti api di dalam dadaku.

Megumi terlihat gelisah; dia melanjutkan:

"Sebenarnya, pagi ini, Sa...Eromanga-sensei mengirimku pesan, bilang kalau dia 「 punya sesuatu yang ingin dia bicarakan padaku 」."

"Huh....?"

Tapi itu artinya Megumi tidak tahu aku dan Sagiri berpacaran sampai tadi?

"Aku tidak tahu detailnya. Kau tahu, karena situasi Aya-chan."

"Oh..."

"Aku bilang padanya 「 Aku akan menelponmu saat aku sudah pulang ke rumah 」...Tapi setelah mendengarnya darimu, aku mengerti. Ini pasti apa yang ingin dia bicarakan."

"Iya, kemungkinan."

Jadi...sekarang kita sudah berpacaran, Sagiri juga punya masalahnya sendiri?

"Tidak apa-apa." Megumi terdengar seperti dia sedang menghiburku.

Aya-chan, yang masih tidak tahu gambaran penuhnya, berkata dengan mata penuh takjub.

"Membayangkan ternyata wanita yang lebih tua memintaimu saran, Megumi-chan sangat keren!"

"Ahaha ~ begitulah ~"

Megumi tersenyum kaku dan mengangguk sebelum berbalik padaku:

"Uhuk uhuk! Ceritakan lebih banyak! Apa masalahmu setelah kau baru saja mendapatkan pacar yang imut?"

" - Ini pertama kalinya aku berpacaran."

"Meskipun kau sudah SMA?" *2

"Iya! Terus apa!?"

Mereka berbicara di saat yang sama! Dan apa-apaan mata menyedihkan itu? Tidak ada yang salah dengan laki-laki yang baru berpacaran di SMA, bukan!?

"Izumi-sensei sangat menakutkan (><)"

"Ara ara, Onii-san, kenapa kau marah?"

"Aku tidak marah! Pokoknya, begitulah masalahnya. Karena ini pertama kalinya aku punya pacar, aku tidak tahu harus apa! Aku bingung! Kita pernah berkencan, tapi aku tidak tahu apapun selain hal itu, jadi aku ingin beberapa saran dari kalian para gadis."

Ucapku sekaligus. Megumi berkata "Um" dan mulai berpikir.

"Aku perlu mendengar detail kencannya dari dia - Bagaimana kalau memberinya hadiah?"

"Jika maksudmu hadiah untuk merayakan kencan kita, maka kita sudah melakukannya."

"Tentu saja maksudku sesuatu yang lain. Kau baru saja berpacaran, bukan? Aku pikir kalau satu hadiah setiap kali kalian bertemu akan baik-baik saja. Anggap saja seperti hadiah yang kecil dan sederhana."

"Sungguh?"

Apa itu tidak masalah?

"Apa itu normal bagi pasangan melakukan hal itu?"

"Tidak juga. Itu saran berdasarkan apa yang kuketahui tentang kalian berdua."

Setelah kita mulai membicarakan tentang asmara, rasanya Megumi jadi seperti seorang ahli siasat.

"Izumi-sensei, tidak ada yang namanya 「cinta normal 」."

Bahkan Aya-chan juga menceramahiku.

Tapi...mereka benar. Aku tidak meminta saran yang normal, aku meminta saran yang cocok denganku.

"Kau benar. Jadi...hadiah...Apa kau punya rekomendasi?"

"Tentu saja itu harus sesuatu yang membuat perempuan senang. Onii-san pastinya lebih tahu dariku."

"Kau benar."

Jika aku tidak tahu, maka aku tidak pantas menjadi pacarnya, atau kakaknya.

"Hadiah yang membuat pacarku senang..."

Aku sudah memberinya banyak hadiah sebelumnya, jadi lebih baik jika aku memberikan sesuatu yang berbeda kali ini. Hm ~ apa yang harus aku pilih...

"Sini! Onii-san, berdiri!"

"Hey, apa yang kau lakukan?"

Megumi memegang tanganku dan memaksaku untuk berdiri.

"Latihan! Aku akan memainkan peran menjadi pacarmu: anggap aku seperti pacar super imutmu!"

"Begitu...Oke, ayo kita coba."

Aku sudah tahu kecuali aku latihan, aku akan diam membeku ketika aku melakukannya sungguhan.

Dengan gembira Megumi menambahkan:

"Untuk membuatnya menjadi lebih realistis, ada sesuatu yang perlu aku ketahui...Onii-san, pacarmu memanggilmu apa?"

“Muu-kun ♡”

"Imutnyaaaaaaaaaaa!!" teriak Megumi. "Sungguh?"

"Tidak, aku bercanda. Dia memanggilku pakai namaku."

"Bisakah kau berhenti menjahiliku! Aku membayangkan dia memanggilmu 「 Muu-kun ♡ 」"

Kupikir aku akan langsung mati jika dia beneran memanggilku seperti itu.

"Dia hanya memanggilku Masamune. Sebenarnya, di dalam pikirannya, dia telah memanggilku itu untuk waktu yang lama."

"Aku benar-benar bisa mempercayainya! Sangat keren!"

"Iya! Iya!" saut Aya-chan sambil tersipu.

Megumi mengangkat tangannya dan melihatku lagi.

"Um um! Memanggil nama satu sama lain secara langsung adalah permulaan yang bagus! Ayo kita mulai 「 latihan memberikan hadiah 」!"

"Silahkan." Aku menepuk dadaku percaya diri.



Megumi mundur beberapa langkah dariku kemudian mulai "memainkan peran Sagiri"

"............"

Pertama-tama, dia menutup matanya. Kemudian ketika dia membuka matanya lagi, kepribadiannya yang cerah dan ceria menjadi tenang dan lemah lembut.

Selanjutnya, dia mengangkat tangan dan membuat gerakan membuka pintu. Itu sungguh terlihat seperti dia sedang membuka kamar terkunci.

Terakhir, "Sagiri" muncul dari pintu. Dia berkata dengan suara yang rendah:

"Masamune...? Iya? Kau.... butuh sesuatu?"

Wow! Sangat nyata!

Dia sudah imut, tapi bersikap seperti Sagiri membuat hatiku tambah berdetak kencang!

Aku menelan ludah, dan berkata:

"A...aku punya...hadiah untukmu."

"Untuk...ku?"

"Um, ini bukan hari istimewa atau apa - aku hanya ingin memberikannya padamu."

"Be, begitu..."

Sagiri (Megumi) tersipu malu-malu.

Kemampuan akting nya nomor wahid!

Tiba-tiba, Megumi kembali ke dirinya yang biasa.

"Berhenti, Onii-san. Kau perlu lebih santai. Apa yang baru saja kau katakan tadi sedikit terlalu kaku."

"Oh? Begitukah?"

"Yang tadi itu, apa yang kau katakan hanya pantas dikatakan jika kau berencana memberinya sesuatu yang nilainya sekitar ¥10.000" (~ 1,2juta)

Dasar! Emang ada template untuk jenis hadiah yang kubeli?

"Aya-chan, apa kau merasakan yang sama?"

"Ah, um ...barusan...aku pikir..." kata Aya-chan sambil malu-malu "Itu terdengar seperti kau akan menciumnya kemudian berkata, 「Akulah hadiahnya 」"

"Aku tidak akan melakukan itu!"

Meskipun dia pacarku, jika seperti itu dia pasti akan langsung menamparku.

"Ah ~ pokoknya, aku tidak berpikir apa yang kau katakan barusan itu baik-baik saja ~"

"Kupikir kau seharusnya menciumnya ketika mengatakan kalimat itu."

Mereka berdua saling sepakat. Aku merasa sedikit gelisah sekarang, bertanya-tanya apakah aku sungguh bisa mengandalkan mereka.

Megumi berbalik dan mengarahkan jarinya padaku:

"Dengarkan baik-baik! Sing ~ katnya ~ apa yang kau katakan tadi itu terlalu serius. Ulangi, oke?"

"Tentu."

"Kemudian, ulangi. Bagus, mulai - Masamune...iya? Kau ...butuh sesuatu?"

"Iya, aku punya hadiah untukmu."

" - Ok, itu bagus - Sungguh? Apa itu?"

"Berbahagialah! Ini bokep kesukaanmu."

"Mengagumkan! Terima kasih, Masamune - tunggu, tidak. Apa-apaan?"

"Tapi dia itu Eromanga-sensei, kau tahu?"

"Aku tahu, tapi untuk sebuah hadiah dari sang kekasih, ini merupakan pilihan terburuk. Jika kau memberinya bokep, bagaimana bisa kau melanjutkannya dengan percakapan yang manis dan romantis?"

"Kita akan membicarakan tentang bagaimana bisa pose ini erotis, atau bagaimana dia bisa menggambar ilustrasi berdasarkan hal itu."

"Terdengar kalian sangat akrab! Tapi tidak!"

Megumi menyilangkan tangannya.

"Tidak?"

"Tidak ♡" Tolaknya sambil tertawa.

Di sebelah kita, Aya-chan berkata:

"Dia sungguh orang cabul."

Kesalahpahamannya jadi tambah buruk.

"Tapi tidak ada hadiah yang lebih mudah daripada itu."

"Ah~ Aku pikir mungkin kita harus merubah taktik."

"Maksudnya?"

"Karena hubungan kalian dekat, kalian sangat memahami satu sama lain. Dan situasi finansialmu juga tidak terlalu buruk..."

Dia berhenti sebentar.

"...Mungkin lebih baik jika kau memberinya sesuatu yang berharga."

"Uh - huh."

Aku mengangguk dan menyuruhnya untuk melanjutkan.

"Aku hanya berspekulasi, tapi - karena hubunganmu berubah dari 「 anggota keluarga 」 yang dekat menjadi 「 kekasih 」, kau tidak tahu jika hubunganmu bisa berubah secepat itu - itulah yang membuatmu bermasalah."

"Itu dia! Tepat sekali."

"Jika seperti itu, kupikir kau seharusnya melakukan sesuatu 「 sebagai seorang kekasih 」 jadi kau dapat terbiasa dengan hubungan barumu. Mungkin hadiah sederhana dapat bekerja, tapi dalam kasusmu, itu mungkin membuatmu kembali ke titik awal."

Tepat sekali! Megumi sangat memahami kita!

"Kalau begitu! Kita harus mengkonfirmasi hubungan baru itu!"

Dia mengepalkan tangannya, dan berteriak:

"Beri saja dia sesuatu yang besar dan berharga!"

"Berharga!"

"Iya. Berharga! Perhiasan, contohnya!"

"Ano, Izumi-sensei! Jika aku menjadi dirimu aku akan membeli sepasang gantungan kunci yang serasi."

Aya-chan dengan semangat memberikan pendapatnya

Karena Megumi menyarankan hadiah yang realistis, ini sama sekali tidak mengejutkan.

"Aya-chan, jika kau ingin gantungan kunci, aku akan membelikanmu sebanyak yang kau suka!"

Megumi memeluk Aya-chan kemudian berbalik melihatku:

"Jadi, Onii-san? Hadiah untuk pacarmu tercinta - kau punya ide?"

"...Dua, sebenarnya."

"Wow, dua!?"

Salah satunya adalah sesuatu yang aku putuskan untuk memberikannya padanya ketika mimpi kita jadi kenyataan. Sekarang, hadiah yang paling cocok untuk Sagiri adalah - itu.

“**********”

Aku berbisik ke Megumi. Dia mengangguk puas dan memberiku lampu hijau.

"Luar biasa, Onii-san. Lakukan saja."

"Ah ~ Kasih tahu! Kasih tahu!"

"Fufufu ~~ Aku akan memberitahumu nanti ~~" ucap Megumi ke Aya-chan.

Aku penasaran apakah aku membuat keputusan yang tepat, meminta saran cinta ke bocah SD.

"Terima kasih kalian berdua atas sarannya."

"Sama-sama ☆"



Kita kembali lagi ke stasiun kereta. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada mereka berdua dan turun di stasiun Iidabashi. Selanjutnya, aku ada rapat dengan kantor departemen editorial mengenai Sekaimo volume 6.

Disaat rapat bagian pertama -

"Um, kupikir bagian ini bagus -"

Setelah membaca naskahku, Kagurazaka-san berkata:

"Tapi ini kesempatan langka untuk menerbitkannya selagi anime Sekaimo sedang ditayangkan, bagaimana kalau menambahkan perkembangan besar dalam novel aslinya?"

"Iya?"

Aku setuju, tapi mungkin kau seharusnya memberi tahuku sebelum aku menyelesaikan naskahku, bukan begitu? Aku tidak mau harus menulis ulang semuanya lagi.

"Supaya bisa sukses besar, ada lima poin utama yang harus kau ingat."

Kagurazaka-san mengangkat lima jari dan mulai menghitungnya:

“Pertama, ketika kau mendapat perhatian publik, pastikan kau telah menyiapkan sejumlah besar produk untuk dijual. Kedua, selain dari anime, kau harus terus menjual barang merchandise lainnya kepada publik. Ketiga, untuk menjaga citra penulis asli, pastikan untuk berpartisipasi dalam kegiatan lainnya yang berhubungan. Keempat, manfaatkan acara publik untuk beriklan. Kelima -”

Dia menutup jari terakhirnya:

“Mencocokkan timing nya dengan anime mu, buatlah klimaks yang besar dalam novel aslimu! Pastikan untuk menambahkan 「 bersambung」 tepat setelah bagian yang paling berkesan."

"Meskipun hal itu dapat membuat orang-orang tegang, para pembaca akan menjadi sangat marah!"

"Tapi hal itu akan menjamin kalau anime nya akan terjual laris manis sampai volume berikutnya, jadi ini rencana yang bagus ~"

Karena dia selalu memberikan pendapatnya seperti ini, dengan cepat aku mengutarakan pendapatku:

"Aku tidak bilang itu ide yang buruk, tapi aku harap setiap volume tidak akan berakhir nge-gantung - namun, bisa saja untuk menambahkan klimaks besar pada waktunya untuk mencocokkannya dengan anime."

"Kau punya ide?"

"Aku akan membuat dua karakter utama menjadi pasangan."

“Rute yang sangat klise, tapi tidak buruk! Tapi, Izumi-sensei, ini pertama kalinya kau menulis cerita komedi romantis, apa kau sudah pernah menulis adegan seperti itu sebelumnya?”

Maksudnya “apa kau yakin bisa menulis sesuatu yang menarik?”

Aku berkata dengan sedikit bangga:

"Aku punya pacar!"

"…Apa?"

"Jadi aku punya sumber referensi tak terbatas untuk menulis topik ini -"

"Apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa -! ???"

Kagurazaka-san berteriak sangat keras. Karena belum pernah melihat dia berteriak seperti itu sebelumnya, aku pun terkejut.

"Ada apa?"

Kenapa kau marah? Aku harap itu bukan karena dia sebenarnya menyukaiku...

"Tunggu sebentar...Izumi-sensei...pacarmu - siapa itu? Mungkinkah itu salah satu penulis yang ditugaskan denganku juga... mungkinkah itu Muramasa-sensei!?"

"Tidak, bukan dia."

"Fiuh..."

Dia mengelap keringat di dahinya, seperti dia baru saja selamat dari bencana.

...Aku tidak mengerti.

"Kalau bukan Muramasa-sensei...maka, Yamada-sensei?"

"Eromanga-sensei." jawabku jujur.

Kagurazaka-san berkata dengan senyuman kecil di wajahnya:

"Tolong putus."

"Ehhhhhhhhhh?"

Apa yang kau katakan?

Dengan ekspresi jijik di wajahnya, Kagurazaka-san menjelaskan:

“Cinta sepihak memberikan dorongan motivasi bagi penulis, tapi ketika cintamu berkembang, itu akan mempunyai efek negatif. Seperti Muramasa-sensei dan Yamada-sensei, penulis itu orangnya sentimental - Menurut pengalamanku, begitu mereka mendapatkan pacar, banyak penulis yang kemampuan menulisnya menurun, dan motivasi mereka turun; terkadang mereka bahkan sepenuhnya berhenti menulis. Proyek anime sedang berjalan dan kau memutuskan berpacaran? Bisakah kau berhenti melakukan sesuatu yang sangat bodoh?”

Itu sebabnya kau ingin kita putus?

"Aku tidak bisa menerima alasan itu."

“Editor Dengeki Bunko akan mendengarkan kisah cinta penulis mereka dan secara diam-diam ikut campur dalam permasalahan cinta mereka sehingga itu tidak tersebar kemanapun.“

Sungguh? Apakah Dengeki Bunko se-rendah itu?

"Kagurazaka-san, kau sudah melakukan itu sebelumnya?"

"Tidak mungkin, tentu saja tidak."

Dia menyangkalnya, tapi aku sangat meragukannya.

“Sebenarnya, ada pasangan di antara penulis yang ditugaskan untukku. Bukankah itu membuktikan kalau aku adalah editor terbaik?"

“……….”

Apa kau yakin itu bukan karena tidak memiliki pengaruh yang cukup? Berdasarkan reaksimu ketika aku memberitahumu tentang pacarku...

"Tapi…"

Dengan nada menggoda, Kagurazaka-san berbicara:

“Sebaliknya, putus cinta akan mendatangkan banyak sekali semangat. Jadi mendorong penulis untuk mengejar seseorang yang kau tahu berada di luar jangkauan mereka - tepat sebelum tugas penting dimulai - adalah taruhan yang berisiko tetapi efektif. "

"Itu bukan alasan!"

Aku tidak ingin meningkatkan semangatku dengan cara itu.

"Itu sebabnya - Izumi-sensei, tolong putus dengan Eromanga-sensei."

Kagurazaka-san mengulangi permintaannya lagi. Matanya tidak tersenyum kali ini, artinya dia tidak bercanda.

"Aku menolak."

Tentu saja aku menjawabnya seperti itu. Tetapi dia tidak mendengarku.

"Kebenarannya adalah, bahkan aku juga terluka karena hal ini, membuatmu merasa sangat kesakitan - tapi hanya ada delapan bulan lagi sebelum anime nya tayang! Kau masih punya cukup waktu! Penulis light novel dan ilustrator, jika kalian berdua patah hati maka aku yakin anime ini akan luar biasa!"

Dia terlihat seperti mengatakan sesuatu yang keren, tapi kata-katanya hanyalah sampah.

Aku berbicara terus terang:

"Tidak peduli kau mau bilang apa, aku tidak punya niatan ingin putus dengannya."

"Aku juga pikir begitu ~"

Kagurazaka-san menghela nafas, seperti dia setengah menduga jawabanku.

"Um...pokoknya, setidaknya ingatlah apa yang baru saja aku katakan. Lebih baik jika tidak ada apapun yang terjadi karena kalian berdua, tapi seandainya sesuatu terjadi dan itu menyebabkan efek yang negatif, pastikan bicarakan hal itu denganku."

Ya, aku tahu.



Rapat kita berakir cukup terlambat. Aku meninggalkan stasiun Gotanno dan berjalan menuju toko buku Takasago.

- Sialan. Apa-apaan itu...Sungguh membuatku kesal.

Sangat sulit bagiku menembak Sagiri, tapi dia berkata "putus" dengan mudahnya. Rasanya seperti seseorang baru saja mencuci otakku.

Meskipun begitu, apa yang Kagurazaka-san katakan, aku...sedikit mengerti alasannya...tapi tidak ada satupun di dunia ini yang akan berkata "aku mengerti", dan kemudian benar-benar putus dengan pacarnya.

Aku tidak bisa menerimanya.



KEMAMPUAN MENULIS YANG DIMILIKI PENULIS MENURUN, DAN MOTIVASI MEREKA MENURUN; TERKADANG MEREKA BAHKAN SEPENUHNYA BERHENTI MENULIS



Itu yang dia katakan. Dia bahkan bilang kalau bagi seorang penulis, cinta yang berkembang akan memberikan dampak yang negatif.

"Itu tidak hanya memberikan dampak yang negatif." Gumamku

Jatuh cinta, mempunyai pacar - pasti ada sesuatu yang bagus yang datang dari situ. Aku akan menunjukkan itu padanya.

Pintu toko buku sudah ada di depanku. Aku pun masuk.

"Selamat datang."

Seorang pekerja toko buku menyambutku dengan nada cerianya.

Takasago Tomoe. Seorang gadis yang mengenakan apron, juga salah satu teman baikku. Tidak ada pelanggan lain selain diriku.

Itu memang sudah diduga. Sekarang sudah jam 21:00 lagipula.

"Pelanggan yang terhormat, kita sudah tutup malam ini."

Musik penutup toko sedang disetel lewat speaker toko.

Musiknya berjudul "Farewell waltz" - juga dikenal sebagai "Cahaya kunang-kunang"

Menurutku, suasana sepi ini sama sekali tidak cocok dengan Tomoe.

"Maaf, apa aku merepotkanmu?"

"Um? Entahlah? Kita juga tidak ada pelanggan lain, dan aku sudah selesai memeriksa penjualan hari ini - jadi, ada apa?"

Tomoe keluar dari belakang meja konter dan datang padaku.

"Sudah sangat lama semenjak aku melihatmu se-galau ini."

Sama dengan ketika aku dikalahkan terus menerus oleh Muramasa-sensei dan dia menanyakan lukaku.

"Hari ini, aku bertemu sesuatu yang menjengkelkan di tempat kerja."

"Eh? Kau bertemu sesuatu yang menjengkelkan? Un, dengan kata lain, karena hal itu kau datang ke tokoku untuk menemui Tomoe-chan yang imut?"

Menyadari mood ku, Tomoe berkata dengan riang.

Dia adalah tipe orang yang - ketika kau menemuinya, dia dapat mencerahkan mood mu bagaimanapun juga.

"Yahh...mungkin?"

Lagipula aku tidak terlalu memikirkannya. Aku hanya berpikir kalau berbicara sebentar dengan Tomoe mungkin bagus. Mungkin jauh di lubuk hatiku - aku berharap bertemu dengannya akan membuatku baikan.

"Selain itu, tokomu?"

Aku yakin ini toko ayahmu.

Tomoe tidak menjawab. Dia hanya tersenyum malu-malu.

"Oh, begitu...ah...ah, jadi.... eto.... Hari ini, jika kau seorang protagonis light novel yang lelah sudah bertarung maka aku adalah teman masa kecil perempuan protagonis?"

Sekarang kau memainkan latar itu, kah?

"Gak, misalnya, jika aku seorang pekerja yang sedang mengeluhkan pekerjaannya maka kau pasti mama-san yang ada di bar." (note: mama-san adalah seorang wanita yang punya posisi otoritas, khususnya di rumah geisha atau bar atau klub malam di Jepang dan Asia Timur)

"Jangan paksakan karakterku ke gambaran semacam itu!"

Tomoe sedikit protes, tetapi dengan cepat berhenti.

"Jadi, ada apa?"

Dia melipat tangan di depan dadanya dan bertanya padaku. Dia punya ekspresi yang serius, terlihat seperti sedang marah - tapi itu hanya kelihatannya saja. Dia tidak benar-benar marah.

Aku tidak tahu apakah kita teman masa kecil atau bukan, tapi kita sudah cukup saling mengenal satu sama lain hingga aku mengerti gestur tubuh itu.

Ok, darimana aku harus mulai.... setelah beberapa sesaat, aku berkata:

"Aku sudah punya pacar sekarang!"

"!"

Mata Tomoe terbelalak terkejut.

Beberapa detik kemudian, tanpa merubah ekspresinya, dia bertanya:

"Apa kau berpacaran dengan Yamada Elf-sensei?"

Semua orang menanyakan pertanyaan yang sama. Jadi di mata orang-orang, Elf dan aku terlihat seperti pasangan?

Ini salah Elf, dia terus berbohong tentang hubungan kita.

"Tidak. Sama Eromanga-sensei."

"Eh...Wow."

Tomoe memegang dadanya, berkedip-kedip. Nafasnya menjadi lebih berat: dia tampak kesulitan untuk tetap tenang.

"Eromanga-sensei...perempuan yang di panggung saat event promosi anime, bukan?"

"........."

Aku melihat matanya. Akan sangat mudah untuk bilang "iya"...

Tapi itu sudah pasti bohong. Namun situasinya membutuhkan izin Sagiri bagiku untuk mengatakannya, jadi aku sedikit bingung. Aku memikirkannya kemudian -

"Tomoe. Aku percaya kalau kau adalah teman terpercayaku, dan aku yakin mulutmu tidak mudah bocor. Kau juga seseorang yang berpikir sebelum bertindak, seseorang yang tahu mana yang benar dan mana yang salah."

Kebenarannya adalah: dialah orang yang telah menjaga rahasia tentangku selama ini.

"Ke, kenapa kau membicarakan ini sekarang?"

Aku bertanya pada Tomoe dengan nada yang sangat serius:

"Tolong rahasiakan apa yang ingin aku katakan saat ini."

"...Me...mengerti - aku janji!"

Tomoe mengangguk. Aku juga mengangguk seperti dia dan memberitahu rahasia besar padanya.

"Tomoe, Eromanga-sensei yang kau lihat itu sebenarnya bukan yang asli."

"!...Maksudmu..."

"Eromanga-sensei yang asli adalah - adik perempuan tiriku."

"-----"

Tangan Tomoe menggenggam dadanya dengan kuat.

"Namanya Sagiri."

"Tapi kau bilang - kau belum pernah melihat Eromanga-sensei sebelumnya."

Itu benar.

Ada waktu yang sangat lama ketika aku tidak tahu kalau aku bekerja dengan seseorang di dekatku.

Tapi aku punya kesempatan untuk merubahnya.

"Itu terjadi tahun lalu, saat musim semi. Setelah acara tanda tangan Izumi Masamune, Eromanga-sensei posting di blognya kalau tanda tanganku buruk - aku sangat marah."

Itu awal dari segalanya.

"Setelah itu, kau memberitahuku tentang video streaming Eromanga-sensei, yang mana aku tonton. Kemudian, aku melihat makan malam yang baru saja aku masak tepat berada di belakang Eromanga-sensei..."

"- Jadi adik perempuanmu adalah Eromanga-sensei...itu yang terjadi?"

Aku mengangguk tanpa mengatakan apapun. Tomoe menarik nafas dalam-dalam, kemudian tersenyum masam:

"...Begitu...sungguh kebetulan."

"Iya, memang. Ilustrator yang bekerja denganku adalah adik perempuan yang tinggal denganku..."

Bahkan untuk light novel, ini bukan sesuatu yang dapat dengan mudahnya terjadi.

"Tapi...tidak semuanya kebetulan. Itu memang kebetulan Izumi Sagiri menjadi adik perempuan Izumi Masamune, tapi ada alasan Eromanga-sensei jadi ilutrator Izumi Masamune."

Eromanga-sensei punya guru yang juga seorang ilustrator. Dia juga punya koneksi dengan perusahaan penerbit.

Dan yang paling pentingnya adalah, kita pernah bertemu sebelumnya. Kita sudah kenal satu sama lain selama lebih dari setahun lewat internet.

Aku menyuruhnya untuk membaca novelku yang buruk. Dia memperlihatkanku gambar ilustrasinya yang buruk.

Terkadang kita membahas pendapat kita. Terkadang kita berargumen. Terkadang kita membicarakan tentang keluarga kita. Terkadang kita menyemangati satu sama lain.

Dan kita membuat janji mengenai mimpi kita.

Hubungan kita seperti itu - kita merupakan teman paling berharga menurut kita masing-masing.

"Akulah yang memberinya garis awal. Aku bilang padanya 「 jika kau menjadi profesional ilustrator, pastikan kau membantuku menggambar novelku 」. Kemudian kita berpisah ke jalan kita masing-masing dan tidak berhubungan lagi."

"Dan dia ...adalah yang tinggal bersama denganmu -"

"Adik perempuanku."

Jawabku. Tomoe sedikit tersenyum.

"Mimpi kita jadi kenyataan...baik kita berdua mengurusi pekerjaan kita masing-masing..."

"Dan orang yang membuat janji denganmu adalah seorang cewek yang imut."

"Iya."

"Apa kau menembaknya?"

Dia menyela. Entah kenapa, berbicara dengan Tomoe membuatku merasa nyaman.

Aku menggelengkan kepalaku.

"Aku melamarnya."

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

Tomoe batuk sangat intens.

"A, apa yang baru saja kau katakan?"

"Aku bilang aku melamarnya. Aku menyukainya semenjak pertemuan pertama kita...aku tambah menyukainya disaat aku tahu dia bekerja di bidang yang sama.  Kemudian, mengetahui kalau dia adalah orang yang berjanji denganku, membuatku sangat senang...ada alasan yang lainnya juga...."

Wah! Setiap kali aku membicarakan cinta, aku merasa sangat malu. Aku tidak berhenti di tengah jalan, jadi aku memberitahunya dari awal.

"Jadi aku bilang, menikahlah denganku."

"Kau itu protagonis light novel apa!"

Sekarang bahkan Tomoe menggunakan kalimat itu untuk mengejekku!

"Apa dia orang yang ditakdirkan untukmu!? Bagaimana bisa? Tidak mungkin dunia seperti di light novel macam ini bisa ada!" Teriak Tomoe

"Apa jawabannya?"

"Eh?"

"Jawabannya!"

"Eto...dia menolaknya."

"Luar biasa!"

Dia membuat pose kemenangan!? Dia membuat pose kemenangan ketika dia mendengar lamaranku ditolak?

"Dia menolakku karena dia terlalu muda untuk menikah."

"Hm? Ehh? Terlalu muda?"

"Kemudian dia menembakku dan memintaku untuk berpacaran dengannya."

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Apaan dah! Kau menakutiku!

Tomoe mengguncang-guncangkan tubuhku, dan aku mulai memberitahu alasan kenapa aku marah.

"Kemudian aku mulai berpacaran dengan Sagiri, tapi editorku bilang kalau cinta akan mengacaukan pekerjaan kita dan memintaku untuk putus dengannya."

"Gatau!"

"E ~eeee ~"

"Gatau ~ emang gue pikirin ~~~~"

Mendadak, Tomoe berbicara dengan kasar.

Bukankah seharusnya kau mendengarkan masalahku?

"Semua itu yang terjadi ~ tidak ada hubungannya denganku ~~ bodo amat ~~~"

Kemudian, dia memegang kepalanya dan mulai bergetar.

"Ada apa dengan perkembangan mendadak ini! Rasanya seperti aku berada di dalam game kartu trading yang jelek dengan masalah keseimbangan yang serius, dan seseorang menggunakan trik kotor untuk mengalahkanku!"

Apa yang harus aku lakukan sekarang!? Dia jelas-jelas marah.

"Dan faktor yang terpentingnya adalah: jika bagian ini dijadikan anime, maka adegan dimana aku berteriak dengan diiringi "Farewell waltz" akan dilihat oleh para otaku! Mereka akan tertawa terbahak-bahak!"

Aku ingin menangis ~ Tomoe ~ sedang diam-diam menangis.

Kemudian, dia menatap tajam padaku:

"Izumi Masamune!"

"Iya!"



"Menjijikan! Apa kau ingin kebahagiaan?"



Dia memukul dadaku.

"........"

Perlahan-lahan..

Aku merasakan emosi membara keluar dari kepalannya. Semua kekhawatiranku dihancurkan oleh tinjuan itu.

"Tentu saja aku mau."

Dengan tenang aku menjawab sahabatku.



Layar smartphoneku bertuliskan pukul 21:30 ketika aku sampai di rumah. Aku membuka pintu depan dan berkata seperti biasa.

"Aku pulang ~"

"Selamat datang."

Aku pikir aku melihat ilusi. Sagiri, mengenakan apron, datang ke pintu menyambutku seperti istri yang baru menikah.

Saking mendadaknya kejadian ini suaraku mulai bergetar.

"Sa...Sa..Sagiri?"

"Karena hari ini tidak ada siapapun disini... aku turun."

Dia terlihat tersipu, wajahnya memerah.

"Be, begitukah? Kalau begitu, ini...?"

"Karena kau bilang ingin melakukan sesuatu seperti suami istri."

Jadi dia menyambutku seperti seorang istri. Mungkin.

Aku sangat senang karena dia memikirkan diriku, dan apronnya sangat cocok dengannya, tapi karena perasaan tidak nyata ini aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Ak...kalau gitu...ulangi...aku pulang."

"Um..... selamat datang... sayang."

Mati aku. Kakiku melemah dan aku jatuh ke lantai.

Ba...bagaimana...

"Wa, wa, wa.... Masamune, kau baik-baik saja?"

"Aku tidak baik-baik saja, tapi jangan khawatir."

Aku sedang sekarat, tapi aku memaksakan tersenyum.

Sagiri menarik tanganku dan membantuku berdiri.

"Ah...oh...jangan menakutiku seperti itu...Apa kau sudah makan malam?"

"Um, sudah."

"Aku sudah menyiapkan airnya, kau ingin mandi?"

"Terima kasih."

Aku melepaskan sepatuku. Sekarang aku bisa berpikir dengan jernih lagi.

"...."

Aku melihat ke apron nya, ke Sagiri. Dia tersipu:

"A, ada apa?"

"Tidak ada. Hanya saja, rasanya seperti kita benar-benar seperti pasangan yang baru menikah."

"!Bo, bodoh!"

Dia memalingkan kepalanya.

Aku hanya bisa tersenyum. Ini impianku. Percakapan dengan keluargaku.

Kejadian yang sama pernah terjadi di rumah ini, saat dulu.

Keluarga.

Aku pulang. Selamat datang. Selamat malam. Selamat pagi.

Sapaan yang sama, normal dan seperti biasa adalah harta karunku.

Sekarang, akhirnya aku mendapatkannya kembali.

Aku tidak akan membiarkannya pergi.

Aku melihat Sagiri, pikiranku sangat kacau.

Dan dia berkata dengan nada yang lembut:

"Masamune, aku dengar dari Megumi...dimana bokep milikku?"

"Tidak, tidak ada."

Dan...ini masih sangat kacau.