Chapter 1 - Aku tidak



Aku ingin pulang.

Saat ini sudah sedikit melebihi pukul 11 siang dan tinggal homeroom yang tersisa setelah selesai upacara pembukaan sekolah dan orientasi mengenai kehidupan sekolah. Kami sedang menunggu wali kelas, Sekolah Menengah Atas Miyamae Tahun Pertama Kelas 7.

Semua teman sekelas di sekitarku gelisah.

Ada yang sedang berbicara dengan teman di sebelahnya, ada yang sedang melihat keluar jendela dengan gugup, ada yang sedang main smartphone, dan bahkan sudah ada orang yang menarik perhatian para perempuan.

Meskipun sekilas semua orang terlihat berbeda, kalian dapat melihat pandangan berharap di wajah mereka.

SMA Miyamae cukup terkenal dengan longgarnya peraturan disini.

Maka dari itu, ada banyak macam-macam orang di sini, seperti ada seseorang yang mengincar Universitas Tokyo dan juga ada orang yang memenangkan kejuaran nasional untuk klubnya, sementara juga ada yang meniru model fashion blonde dan bahkan ada perempuan yang ingin jadi seorang idol di kelas yang sama.

Aku yakin teman sekelasku juga berdebar-debar terhadap masa depan cerah yang menunggu mereka di kehidupan sekolah yang sangat dinanti-nanti ini.

Selagi aku melihat mereka seolah-olah mereka bagian dari dunia lain,

"Selamat pagi!"

Seorang guru muda dengan ekspresi cerah memasuki ruang kelas dan memulai homeroom.

"Aku akan jadi wali kelas kelas kelas ini, Nakaoka Ryuuta. Aku menantikan tahun ini dengan semuanya!" ucap Nakaoka-sensei dengan nada seperti seorang atlit, berdiri di depan kelas.

Dia tampak berusia dua puluh lima tahun keatas. Dia mengenakan jaket yang terlihat baru saja keluar dari laundry dengan tidak ada satupun kusut di jaketnya, dan ia memberikan kesan seorang pria muda yang bersemangat.

Hal selanjutnya yang ia katakan setelah presentasinya sebagai wali kelas,

"Dan sekarang, waktunya untuk pengenalan diri!"

Adalah ini.

"Dengan urutan dari nomor absen berdiri di depan semuanya, kemudian ucapkan nama kalian dan dari SMP mana, dan... yahh, hobi kalian atau apapun itu, ucapkan saja beberapa kata untuk semuanya! Tidak ada batasan waktu, jadi semuanya bisa melakukan apa yang kalian sukai, tapi jangan sampai keluar jalur. Kalau begitu, ayo mulai!"

Ruang kelas jadi berisik karena perkembangan ini.

Orang dengan nomor absen 1 pun berdiri,

"Eeh, ini terlalu mendadak-"

Dan pergi ke depan dengan ekspresi tidak begitu kecewa.

"Eto, aku Aimura Junji, dari SMP Momoi! Um, aku suka olahraga lari disana, dan, eto, aku cukup hebat di turnamen distrik! Jika kalian ingin tanda tanganku aku bisa memberikannya nanti, jadi jangan ragu untuk memanggilku!"

Kelas pun tertawa terhadap nadanya yang seperti host acara TV show.

Tetapi bagiku, aku merasa tidak nyaman di dalam suasana yang harmonis ini.

Aku tidak berniat untuk dekat dengan siapapun disini.

Aku ingin tetap menjaga percakapan dan pekerjaan komite seminim mungkin, dan aku juga tidak mau bergabung dengan klub.

Itu sebabnya aku tidak memerdulikan namanya, asal sekolahnya, hobi atau apapun dari teman sekelasku.

"Aku Ikawa Ai! Aku dari SMP Igusa! Aku lagi ga di klyub manapun... haha, lidahku kegigit. Pokoknya, aku ga di klub manapun tapi──"

Sementara urutan nomor absen 2 sudah memulai presentasinya, aku merendahkan pandanganku menuju buku di tanganku, "Umur 14 Tahun" seperti biasa.

Ditulis oleh Hiiragi Tokoro. Kisah mengenai Tokiko si gadis literatur yang kikuk, menjalani hidup sambil memikirkan banyak hal.

Saat aku melihat kalimat yang tertulis di halaman ini, pandangan gelapku menjadi cerah. Buku berukuran A6 ini merupakan penyelamatku di kehidupanku yang membosankan.

Sudah setahun semenjak aku membeli buku ini di toko buku di depan stasiun. Aku sudah banyak berulang kali membacanya sehingga sampulnya jadi lusuh, halamannya berkerut dan bagian pinggir luar bukunya berjumbai. Saking lusuhnya buku ini bahkan tidak bisa disimpan di gerobak 100 yen di toko buku bekas. Tapi perasaan memiliki kawan dalam buku ini tidak memudar mau dibaca berapa kalipun.

"Takashima Ryuuji... Dari SMP Kamiogi... Salam kenal..."

Di sampul yang penuh goresan ini ada font judul yang mudah cibaca, dan ilustrasi seorang gadis SMP.

Musim semi lalu, saat aku melihat sampul ini di toko buku, aku merasa anehnya tertarik.

Buku yang benar-benar kau sukai memang seperti itu. Judulnya menarik, atau desainnya menonjol, entah bagaimana mereka meninggalkan kesan yang agak kuat di benakmu yang tidak bisa kau lupakan.

Dan faktanya, begitu aku mulai membacanya aku tidak bisa berhenti.

Selagi aku melanjutkan ceritanya, aku tenggelam ke dalamnya.

Saking dalamnya bahkan setelah aku selesai membacanya di hari yang sama, aku mulai membacanya lagi untuk berada di dunia Tokiko sedikit lebih lama lagi.

"Namaku Nishino Keisuke! Aku dari SMP Zenpukuji! Kita hanya punya satu kehidupan sekolah, jadi ayo bersenang-senang!"

Aku membalikkan halamannya dengan jariku.

Kehidupan sehari-hari yang dilalui protagonis, Tokiko.

Kau bisa bilang kalau "Umur 14 Tahun" hampir tidak punya pasang surut apapun. Tidak ada jatuh cinta, tidak ada masalah untuk dihadapi, hanya Tokiko melewati kehidupan sehari-harinya dalam kesendirian sambil memikirkan banyak hal.

Tokiko dengan cemas memikirkan masa depan sambil melihat langit berawan dari kereta.

Tokiko seperti merasa dia memenangkan sesuatu setelah menemukan novel yang ternyata menarik walaupun sebelumnya dia tidak menyukainya.

Tokiko menyesal telah memotong poni nya di depan kaca.

Tokiko menangis sendirian setelah bertengkar dengan kakak perempuannya.

Aku punya empati yang aneh untuk pemikirannya, terlebih, aku anggap itu menawan.

Di satu sisi, kau bisa bilang kalau "Umur 14 Tahun" merupakan cerita yang dibuat dari pemadatan sensitivitas dan pesona seorang gadis jomblo, Tokiko.

Aku sudah tertarik membaca buku dari awal. Semenjak aku kecil, aku telah membaca buku-buku literatur di rumahku, dan sekarangpun aku masih mencari buku yang membuatku tertarik di toko buku.

Tapi itu pertama kali, dan terakhir kalinya untuk saat ini aku sangat terkagum-kagum dengan protagonis.

"Aku Nohara Yukari. Aku dari SMP Momoi. Aku tidak bergabung dengan klub, dan aku tidak niat gabung klub di SMA juga."

Namun, perkenalan dirinya berlangsung lebih cepat dari yang kukira.

Namaku Hosono Akira, jadi nomor absenku berada di setengah terakhir.

Kupikir aku punya waktu, tapi hampir tiba giliranku.

Setelah gadis lelet yang saat ini ada di depan, giliran gadis dengan kesan lemah yang ada di depanku, kemudian giliranku. Aku sudah memutuskan apa yang ingin kukatakan, jadi setelah giliranku tiba aku akan dengan cepat melakukannya lalu kembali ke kursiku. Selama aku tidak blunder, aku tidak mengharapkan hal apapun.

Aku tidak niat untuk jadi teman dengan siapapun di ruang kelas ini. Selama aku punya novel ini, selama aku punya Tokiko, aku tidak pernah merasa bosan.

Aku sunguh berpikir seperti ini.

Itu sebabnya,

"Aku Hiiragi Tokiko."

Nomor absen tepat sebelum diriku.

Sambil memikirkan "Dia punya nama seperti Tokiko," aku melihat ke depan dan terasa seperti waktu telah berhenti.

"Aku dari SMP Shouan, dan hobiku membaca. Aku punya kakak perempuan. Di SMP aku masuk klub literatur."

Lesu, mata gelap berbentuk almond.

Rambut hitam potongan bob dan bulu mata yang bisa kau ketahui panjangnya bahkan dari jarak ini.

Tubuh ramping mengenakan blazer merek baru yang pas dengannya, cahaya matahari menyinari kulit putihnya yang seperti porselen, dan leher kurusnya seperti kaca patri yang mudah pecah.

Refleks, aku melihat ke sampul "Umur 14 Tahun" di tanganku.

Mereka persis terlihat mirip.

Gadis yang tergambar di ilustrasi dan gadis yang berada tepat di depanku terlihat sangat mirip.

Bukan itu saja. Aku melihat ke depan lagi. Hiasan rambut berwarna hijau zamrud cocok dengan penampilan cantiknya. Suara yang jelas dan merdu. Dia berdiri tegak dengan tatapannya ke bawah.

Aku dapat kilas balik tentang deskripsi Tokiko sendiri di buku.


── Hiasan rambut giok yang aku peroleh tampaknya dibuat selama awal era Showa. Ini bukan dari merek manapun, ini milikku seorang, dan harta karunku.


── Suara yang jelas dan bermartabat. Meskipun orang-orang memujinya, aku mendambakan suara yang berbeda. Suara rendah, suara serak, suara sumbang. Aku yakin jenis suara seperti itu mewakili kehidupan yang telah dijalani pemiliknya.


── Aku berdiri di depan semua orang di ruang kelas. Hanya orang yang ada di depan yang bisa melihatku. Itu sebabnya, paling tidak, aku harus berdiri tegak sambil menahan tatapan semua orang.


Terlebih, nama marganya sama dengan penulis "Umur 14 Tahun", Hiiragi. Dan kalau dipikir-pikir, Tokiko di novel punya kakak perempuan dan dia juga bergabung dengan klub literatur...

Tidak, mari abaikan detail kecil itu.

Lebih dari apapun, keberadaan Hiiragi Tokiko, aura bangsawan namun kesepiannya, persis seperti bayanganku terhadap Tokiko.

Sepenuhnya mengabaikan alasan dan akal sehat, aku merasakannya.

[OLI Fan Translation] Bokukano Korekara Chapter 1


Dia Tokiko. Tokiko tepat berada disini.

Sang gadis dari novel tepat berada di depan mataku.

Penghilatanku buram. Aku merasa sangat pusing.

Kesadaranku akan kenyataan menghilang, dan alih-alih merasakan sensasi yang aneh, seolah aku telah memasuki dunia cerita, dan menggantikannya.

"...Mohon kerja samanya."

Kata Hiiragi Tokiko, lalu dia membungkuk sedikit dan kembali ke kursinya.

Tangan bertepuk untuk ke dua puluh kalinya atau berapa lah.

Dalam kebisingan ini, Hiiragi Tokiko berlari kecil ke kursinya seolah pergi menuju tempat berlindung dari hujan.

"... Hei, berikutnya!"

Mendengar suara guru, aku kembali sadar.

Semua orang menatapku.

"…Ah iya! Maaf!"

Aku buru-buru berdiri dan pergi ke depan.







“Dan perjalanan jalan kaki minggu ini adalah di Pegunungan Hida! Yang juga disebut Kyoto kecil, Hida adalah kota kuno yang penuh pesona. Di lokasi sebelumnya Mikami-san dan Tsuchida-san memiliki sedikit pertikaian, jadi bagaimana perjalanannya akan berkembang——”

"Pegunungan Hida, huh, jadi kangen, Sayang," kata ayahku sambil menonton TV dan minum bir.

Ibu menjawab dari dapur,

“Pegunungan Hida? Emang ada apa?”

“Ini acara TV tentang perjalanan. Kita pergi ke sana saat kita masih sekolah.”

"Ah, acara TV... Tapi kita pergi ke sana? Aku tidak ingat."

“...Kejam sekali. Ya tapi memang benar kita pergi ke banyak tempat..."

Dua puluh menit dari sekolah dengan berjalan kaki.

Di rumahku yang berada di sisi kawasan ke-23 Tokyo, orang tuaku, aku dan kucing kami, Shishamo, sedang berkumpul di ruang tamu.

Berbaring telentang di sofa, aku teringat apa yang terjadi hari ini.

Hiiragi Tokiko. Gadis itu terlihat persis seperti Tokiko dari "Umur 14 Tahun".

Aku cukup bingung, tapi dipikir-pikir, itu bukan sesuatu yang luar biasa.

Itu hanya kebetulan mirip.

Kita tidak berada di dunia fantasi, dan karakter dari cerita tidak bisa muncul di dunia nyata.

Cuman kebetulan mereka mirip, dan mereka punya nama yang sama. Itu saja sudah merupakan kebetulan yang sangat besar, tapi mencari di antara semua perempuan yang seusianya di Jepang, tidak aneh jika menemukannya.

Lagipula, aku bahkan tidak yakin aku cukup tenang ketika aku melihat Hiiragi.

Besok, jika aku melihatnya dengan tenang, mungkin saja mereka tidak akan terlihat semirip itu.

"Selamat pagi! Aku menantikan pergi ke Pegunungan Hida. Aku harap kali ini kita akan memiliki perjalanan yang damai, hahaha, kalau begitu, ayo pergi!"

"Ah, itu Stasiun Takayama. Lihat, Sayang, aku beli sarubobo untukmu di sini!”

"Err, benarkah...?"

"Serius! Lihat, di sini! Di sudut itu! Kita saling memberi sarubobo untuk keberuntungan kerja! Saat kita masih mulai mencari pekerjaan!”

"Umm..."

"Kau benar-benar tidak ingat?... Meskipun senyummu saat itu jelas terukir dalam ingatanku..."

Ayah menurunkan bahunya, kecewa.

Namun, Ibu tiba-tiba membuat wajah seolah dia menyadari sesuatu,

"... Umm? Kapan kita mulai mencari pekerjaan?”

"Ya, itu benar. Sekitar akhir tahun saat kita di tahun ketiga..."

Berbicara sampai di sana, Ayah tiba-tiba diam.

Ibu menyipitkan matanya dan memandang rendah Ayah.

"... Kau tahu, Sayang, kita bertemu saat pesta tawaran kerja tidak resmi, kan?"

"..."

"Jadi itu berarti kita tidak saling kenal saat kita di tahun ketiga, kan?"

"..."

"Lalu, aku penasaran siapa yang terukir jelas dalam ingatanmu?"

"... A-ahahah. Yah, kau tahu... err...”

"Sepertinya itu perjalanan yang sangat menyenangkan."

"Tidak, yahh... umm..."

Lalu Ayah tiba-tiba berbalik ke arahku,

“Ng-ngomong-ngomong, Akira! Hari ini, kau tahu, upacara masuk sekolahmu, bukan? Jadi bagaimana? Semuanya berjalan baik!?”

"Apa? Upacara masuk sekolah?"

Tanpa sadar aku meragukan apa yang telah kudengar karena betapa buruknya ayah berusaha mengubah topik pembicaraan.

“Ya itu. Err, tiga tahun ke depan ini penting untuk masa depanmu! Belajar, klub atau cinta atau apalah, kau harus mengabdikan diri sepenuhnya untuk itu! Maka dari itu, kau harus segera mulai memikirkan masa depanmu──”

Wah, itu mengerikan.

Meskipun ayah ingin menutupi kesalahannya, pasti ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikannya. Aku yakin bahkan ayahku tidak tahu apa yang dia bicarakan.

“Ngomong-ngomong soal masa depan, kau akan dapat hak pilih sebentar lagi, Akira! Anak-anak muda mengeluh kalau mereka tidak tahu tentang politik, jadi kau harus mulai──"

Ayah semakin menyimpang dari topik. Aku tidak akan punya hak pilih selama dua tahun lagi, ayah tahu. Apa yang sedang ayah coba lakukan?

Kemudian dengan waktu yang tepat, smartphone ku bergetar di saku ku.

"...Tunggu, seseorang menelepon."

Menghentikan pembicaraan, aku berdiri dan pergi ke lorong, ayahku memohon untuk tidak pergi ke belakang.

Melihat layar, tertulis "Panggilan dari Itsuka".

... Sudou, ya. Bukan seseorang yang ingin aku ajak bicara, tapi ini masih lebih baik daripada terlibat dalam pertengkaran pasangan yang sudah menikah.

"Halo, kau sibuk?"

Menjawab panggilan itu, aku bisa mendengar suara penuh semangat saat aku mendekatkan telepon ke telingaku.

"Tidak, tidak juga."

"Bagus. Jadi, bagaimana hari pertamamu? Bagaimana kelasmu?"

"Meskipun kau bertanya..."

Aku memikirkan Hiiragi Tokiko untuk sesaat, tapi,

"Tidak ada yang spesial, seperti biasa," jawabku acuh tak acuh.

"Begitu. Baiklah, tidak masalah. Hanya ingin tahu bagaimana kabarmu."

Aku sudah kenal Sudou Itsuka dari SD. Kita berada di kelas yang sama selama sembilan tahun, dan sekarang, setelah masuk SMA Miyamae, ini pertama kalinya kita berpisah.

Dia adalah satu dari dua orang yang mengkhawatirkanku semenjak aku mulai menghindari orang-orang, jadi dia sesekali menelponku.

Aku yakin dia khawatir padaku, yang mengisolasi dirinya dari orang-orang, dengan caranya sendiri. Meskipun aku tidak ingin dia begitu.

"Setelah keadaan mulai tenang, ayo ajak Shuuji dan main bersama lagi."

"Kalau aku mau."

"Meskipun kau tidak mau, aku akan mengajakmu. Itu saja, dadah."

"Iya, dadah."

Telepon berakhir dengan jawaban singkat.

Aku menghela nafas, pergi ke kamarku lalu melemparkan hp ku ke kasur.

"Masih bersama lagi, kah."

Seperti hp ku, aku membiarkan diriku jatuh ke kasur, merenungkan perkataan itu.

Bagaimana ia bisa mengharapkan sesuatu dariku?

Meskipun Sudou merupakan salah satu orang yang tahu alasan terbaik aku tidak ingin terlibat dengan orang-orang.







Pagi esok.

Hampir telat masuk ke kelas,  aku punya firasat buruk mendengar suara di sisi lain pintu ini.

Beberapa orang sedang mengobrol. Kupikir aku mendengar empat atau lima orang berbicara di sekitar baris keempat dari pintu masuk sebelah kanan, yang begitu dekat dengan kursiku.

... Sangat menyebalkan.

Jika ada orang yang menduduki kursiku aku harus memintanya untuk pindah.

Aku ingin hidup setenang mungkin, tanpa berbicara dengan siapapun. Jadi berbicara dengan teman sekelas pagi-pagi sekali sangatlah merepotkan.

Aku membuka pintu dengan kesal,

"Oh, kau dari klub basket Kamiogi! Mereka kuat!"

"Berkat para senpai! Kita kalah dari Shouan, tapinya."

Dan tentu saja, beberapa laki-laki dan perempuan ada di sekitar kursiku.

Tapi, haruskah aku menyebutnya belas kasihan, kursiku ada di ujung kelompok itu, jadi tidak ada siapapun yang duduk di kursiku.

"Ah, pagi. Err... Hosono?"

"... Yeah, pagi."

Saat aku meletakkan kantongku ke meja, ada orang dari kelompok itu menyapaku dengan akrab.

"Maaf menghalangi tempat dudukmu."

"Tidak, tidak masalah."

Aku mengambil pensil dari kantongku, menyimpannya di meja sambil memberikan jawaban singkat. Sepertinya aku berhasil menghindari percakapan yang merepotkan.

Namun, aku sadar.

Perempuan yang duduk di depanku, Hiiragi Tokiko terlihat tidak nyaman ketika dia di kelilingi oleh bagian dari kelompok itu.

Hatiku berdetak kencang, seolah sedang berusaha ingin terbang dari mulutku.

Bahkan setelah kemarin, Hiiragi masih terlihat persis seperti Tokiko.

Penampilannya, atmosfirnya dan coraknya yang lesu persis seperti bayanganku.

Jadi kemarin memang bukan sekedar imajinasiku.

Terlebih, itu membuatku ingat sebuah bagian dari "Umur 14 Tahun".



── Saat aku bertambah tua, aku jadi seorang pengecut.

Ketika teman sekelasku menghabiskan waktu untuk membicarakan cuaca, hiasan, ataupun film yang baru-baru ini mereka tonton, aku menghabiskan waktuku mencari kata pertama untuk dikatakan, melihat ke seliling dengan gelisah seperti orang bodoh.



Di depan mataku, "aku menghabiskan waktuku mencari kata pertama untuk dikatakan, melihat ke sekeliling dengan gelisah" jelas merupakan penggambaran Hiiragi Tokiko saat ini.

Aku tidak tahu caranya masuk dalam percakapan. Mula-mula, aku tidak tahu kenapa aku ada disini. Kedua kalimat itu menggambarkan ekspresinya saat ini.

Kemungkinan besar, kelompok itu pindah ke sekitar tempat ia duduk. Sepertinya, Hiiragi dalamnya juga mirip seperti Tokiko.

"Ah, ngomong-ngomong," seorang gadis dari kelompok mengubah pandangannya menuju Hiiragi, "kamu dari Shouan bukan, Hiiragi-chan?"

"I-iya," jawab Hiiragi malu-malu.

"Lalu kau kenal Tsuzuki-senpai!? Dia di klub basket, sangat kuat dan sangat tampan, jadi dia sangat populer!"

Hiiragi membuat wajah penuh kesukaran, dan setelah berpikir sebentar,

"Ma-maaf, aku tidak mengenalnya..."

"Eh, serius?"

"Hey, Hiiragi-chan kan di klub literatur, ingat? Jadi tidak heran kalau dia tidak kenal Senpai dari klub olahraga."

"Tapi Tsuzuki-senpai sangat terkenal..."

Hiiragi terus terlihat tidak nyaman sementara percakapan berlanjut.

Entah kenapa, hanya melihatnya saja membuat dadaku sesak.

Mereka tidak ada niatan buruk apapun. Mereka hanya ingin mengambil keuntungan dari waktu luang yang singkat sebelum kelas dimulai.

Tapi aku sangat mengerti perasaan Hiiragi, jadi aku berdoa supaya homeroom cepat di mulai.

"Jika kau ada di klub literatur, itu artinya kau banyak baca buku?"

Mereka terus bertanya pada Hiiragi.

"Iya..."

"Novel macam apa yang kau suka? Aku tidak tahu banyak tentang novel, apa kau punya rekomendasi?"

"U-ummm..."

Hiiragi sedikit mengerutkan kening, tatapannya ke bawah saat ia mulai berpikir dengan serius.



── "Apa yang kau suka tentang buku ini?"

Ketika kakakku menanyakan itu, itu membuatku ingin menangis.

Aku hanya bisa mengekspresikan cintaku terhadap novel dengan kata-kataku sendiri. Perasaan itu perseorangan, itu adalah suatu pribadi yang tidak bisa kau bagikan ataupun jelaskan. Itu sebabnya, aku tetap menyimpannya di kepalaku seperti tupai yang menjaga makanannya saat hibernasi selama musim dingin.

Rasanya seperti dia telah menunjukkan bahwa melakukan hal itu tidaklah tulus.



Kurasa aku tidak salah karena berpikir kalau ini kebetulan mirip.

Maksudku, tidak mungkin ada heroine dari buku muncul di dunia nyata.

Namun, perempuan di depan mataku ini, Hiiragi Tokiko tampak sedang sangat kesulitan, sama seperti Tokiko saat dia merasa kalau "Perasaan itu perseorangan, itu adalah suatu pribadi yang tidak bisa kau bagikan ataupun jelaskan".

Dan itu sebabnya,

"... Sepertinya, dia terlihat seperti suka literatur tua."

Tanpa sadar, aku mulai berbicara.

"Sesuatu dari awal era Showa... ketimbang sesuatu dengan perkembangan yang heboh, dia punya kesan menyukai buku yang feminim dan tentram yang dibuat oleh penulis perempuan. Dengan perempuan sebagai protagonis nya..."

Semua orang dari kelompok itu menatapku, yang tiba-tiba berbicara.

Mereka membuat ekspresi Eh, apa...? Kenapa orang itu mulai berbicara...?

Tapi diantara mereka, hanya Hiiragi yang berkata "I-iya," melihatku seolah-olah sedang melihat hewan langka.

"Kau, benar. Tepat seperti yang kau bilang..."

"... Persis sesuai dugaanku. Entah kenapa kau punya aura seperti itu. Aku juga sering baca novel semacam itu..."

Sambil membuat ini terlihat seperti aku tenang saat berbicara, kenyataannya adalah aku cukup terjekut terhadap konfirmasi Hiiragi.

Aku ternyata benar.

Apa yang kuucapkan adalah kesukaan Tokiko yang ia sendiri ucapkan di "Umur 14 Tahun".

Itu bukan selera yang aneh. Aku yakin banyaknya perempuan yang menyukai literatur Showa sebanding dengan banyaknya bintang di langit.

Bagaimanapun, penampilannya, atmosfirnya, namanya dan bahkan seleranya dalam novel. Meskipun ini kebetulan, kupikir hal seperti ini cukup langka.

Saat aku memikirkan hal-hal itu, bel yang menandakan dimulainya homeroom berdering.

Dengan "Udah lagi?" dan "Dadah," masing-masing dari kelompok itu kembali ke tempat duduknya.

Hiiragi, merasa lega, menarik nafas pendek, lalu melirik sekilas ke arahku dengan matanya yang menyipit.

Dan itu, juga, tumpang tindih dengan gambaranku terhadap Tokiko, memberiku perasaan gelisah yang aneh.







"Itu saja untuk hari ini. Sampai jumpa besok!"

Homeroom terakhir berakhir dan teman sekelasku meninggalkan kursi mereka dengan berisik.

Ada yang membuat rencana untuk bermain dengan yang lain, ada yang berjanji untuk melihat klub bersama, ada yang cepat-cepat pergi dari kelas, dan di antara mereka, Hiiragi dengan tenang menyimpan kembali barang-barangnya ke dalam tasnya.

Jika dia Tokiko... pikirku, sambil melihat bagian belakang potongan rambut bob nya.

Jika Hiiragi adalah Tokiko... Dia akan langsung pulang ke rumah. Sepertinya dia termasuk anggota klub yang cuma ditulis di kertas saat SMP, jadi aku rasa dia hanya akan meninggalkan sekolah, berhenti di toko buku, dan jika ada buku baru yang membuatnya tertarik dia akan membelinya.

Ketika aku sedang memikirkan itu,

"Ah..."

Dia menjatuhkan sesuatu.

Itu berguling di lantai sampai itu menyentuh kakiku.

Dengan refleks aku menunduk dan mengambilnya.

"Ini..."

Warnanya hitam mengkilap dengan hiasan berwarna emas, sebuah alat tulis berukuran telapak tangan.

Ini pulpen. (note: mungkin diantara kalian ada yang tidak tahu, pulpen berbeda dengan bolpen. jadi maksudnya pulpen yang jatuh itu yaitu pulpen yang ujungnya tajem. bukan pulpen biasa atau bolpen)

Aku sudah tidak terkejut lagi.

Tokiko juga membawa pulpen, yang ia terima dari kakak perempuannya. Ketika aku membaca itu, aku menyisihkan sedikit uangku dan membeli satu untuk menirunya.

Dan hari ini, itu terus terjadi lagi dan lagi.

Selama istirahat makan siang, Hiiragi memakan bekalnya, yang terlihat buatan tangan, sendiri di mejanya. Bekal itu dibuat dari kayu dan punya dua lapisan. Tokiko membuat makan untuk kakaknya dan dirinya setiap hari, dan kalau tidak salah bekal itu juga mirip seperti yang digambarkan.

Selama istirahat, dia menghabiskan waktunya membaca. Berlawanan dengan apa yang biasanya kau harapkan darinya, itu adalah novel asing berjudul "The Scream of Auction Number 49". Novel yang sama dengan yang Tokiko ucapkan di "Umur 14 Tahun" kalau ia ingin mencoba untuk membacanya setelah ia masuk SMA.

Awalnya, aku terkejut setiap kali aku mengetahui kemiripan mereka.

Tapi setelah istirahat makan siang, sebaliknya aku mulai mencari perbedaan-perbedaan antara mereka.

Karena aku sudah mencari kemiripan mereka, dan menemukannya. Tentunya itu karena jauh di dalam lubuk hatiku, aku punya beberapa ekspektasi. Itu sebabnya, jika aku mencari perbedaan, aku pasti bisa menemukannya. Atau begitulah kupikir.

Namun, Hiiragi terus berprilaku seperti Tokiko.

Ketika ditunjuk oleh guru, Hiiragi membaca teks kuno yang menggunakan sistem penulisan jaman dulu dengan lancar. Selama kelas olahraga, dia mengikat rambut pendeknya di belakang kepalanya. Selama homeroom terakhir, dia mendengarkan guru dengan punggung yang tegak.

Setiap prilakunya sangat cocok dengan kesanku terhadap Tokiko dan gambarannya yang kumiliki di pikiranku.

Aku tahu kalau karakter dari novel tidak bisa muncul di dunia nyata.

Tapinya, Hiiragi yang bukan siapa-siapa selain penggambaran sempurna Tokiko, secara bertahap menghancurkan alasan dan akal sehatku.

"Maaf," ucap Hiiragi berbalik padaku selagi aku melihat ke pulpennya.

"Terima kasih sudah ambilin pulpennya."

Matanya, yang memberikan kesan besar karena wajah kecilnya, melihatku dari jarak dekat.

"Ah, tidak masalah... Tapi, jarang ada yang pake pulpen..."

"Umm... Kakak perempuanku memberikannya padaku."

"Ohh, be, gitu... Sebenarnya, aku juga punya."

"Sungguh? Hosono-kun juga..."

Mungkin itu membuatnya tertarik, Hiiragi menatapku.

Aku secara refleks mengalihkan muka darinya.

"Yang tadi pagi juga... Mungkin kita punya selera yang sama?"

Aku tidak bisa menahannya lagi.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, atau akal sehat macam apa yang bekerja disini.

Meski begitu, aku ingin tahu hubungan antara Hiiragi dan Tokiko.

Meskipun tidak ada, aku tidak masalah dengan itu.

"Hey."

"... Iya?"

Saat aku mulai berbicara, Hiiragi menjadi tegang ke titik dimana bahkan orang luar pun dapat mengerti.

"Novel kesukaan Hiiragi, itu 'Mengembara di Alam Indra Ke-Tujuh' dari Ozaki Midori, bukan?"

Begitu aku mengatakannya, mata Hiiragi melebar.

Dia sedikit menganga, melihatku dengan tatapan kosong untuk sesaat, lalu menjawab tidak lama kemudian.

"I-iya..."

Satu hal lagi. Tapi kurasa itu masih bisa disebut kebetulan, jadi ayo coba tanya hal yang lebih pribadi.

"Kau punya lukisan cat minyak di kamar yang kau terima dari nenekmu?"

"... Iya..."

"Setiap minggu kau mendengarkan siaran radio yang dibuat oleh sekumpulan mahasiswa universitas?"

Dia tidak menjawab lagi.

Pada Hiiragi yang tercengang, aku menanyakan pertanyaan terakhir:

"Hiiragi, apa kau pikir kau ingin hidup dengan indah?"

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, atau akal sehat macam apa yang bekerja disini.

Namun, jika dia mengerti pertanyaan ini.

Jika saat ditanya ini dia dapat mengerti maksudnya.

Maka tidak perlu diragukan lagi kalau Hiiragi itu Tokiko.

Hiiragi melihatku, sedikit gemetar.

Tapi beberapa detik kemudian, dia membuat ekspresi seolah mengerti sesuatu.

"... Jangan-jangan..." bisik Hiiragi, "Hosono-kun, jangan-jangan... kau baca..."

"Baca buku ini?"

Aku mengeluarkan "Umur 14 Tahun" dari dalam mejaku.

Seketika itu juga, Hiiragi memegang tanganku dengan kecepatan yang luar biasa.

Aku dapat merasakan jari dinginnya di pergelangan tanganku.

"Eh!? Tunggu, apa yang..."

"Ikuti aku," ucap Hiiragi terlihat murka. "Aku akan menjelaskan, jadi ikuti aku," ucapnya sambil pergi meninggalkan kursinya.

Ekspresinya serius, dan dia tampak kesulitan, jadi,

"... Baiklah."

Aku setuju, meninggalkan kursiku dan mengikuti Hiiragi dengan tenang.







Kita keluar dari ruang kelas, berjalan melalui lorong, melintasi jalan menuju bangunan klub, menaiki tangga, lalu akhirnya Hiiragi berhenti di depan pintu yang bertuliskan "Ruang Kelas Sementara".

Kita dapat mendengar bunyi pukulan drum yang seperti mesin, dan nada panjang terompet yang terdengar seperti klakson usang.

Di belakang jendela, para anggota klub baseball sedang melakukan latihan di lapangan.

Aku tidak melihat tanda-tanda kehadiran di sekitar. Sepertinya orang-orang dari klub budaya jarang datang kesini.

"A-ada apa..." tanyaku pada Hiiragi dengan gugup setelah akhirnya ia melepaskan tanganku.

"... Kau membacanya?"

Hiiragi melihatku dengan tatapan kosong.

Itu agak membuatku tidak nyaman, jadi tubuhku dengan tidak sengaja menciut.

"Kau membacanya...?" ulang Hiiragi.

Kemudian aku akhirnya mengerti kalau dia sedang membicarakan tentang "Umur 14 Tahun".

"I-iya, aku membacanya..."

"... Aaaah..."

Hiiragi mengeluarkan suara yang menyedihkan, kemudian memegang wajahnya dengan kedua tangannya.

Pipi putihnya memerah di hadapanku.

"... Tentu saja. Sudah pasti... kalau aku suatu hari akan bertemu seseorang yang sudah membacanya..."

"... Bisa dijelaskan apa maksudnya?"

Aku menguatkan diri dan mulai berbicara:

"Pemeran perempuan novel ini, Tokiko... Dia sungguh mirip sepertimu, Hiiragi. Baik itu penampilan, kepribadian, tidak hanya itu, pada dasarnya semuanya..."

"..."

"Pulpen dan novel kesukaanmu, dua hal itu ditulis di 'Umur 14 Tahun'. Dan lukisan di kamarmu, siaran radio nya juga."

"... Kau sungguh ingat semua isi novel ini."

"Yah begitulah, karena aku membacanya berulang kali."

"Berulang kali!?"

Refleks aku sedikit gemetar karena suaranya yang tiba-tiba naik.

Ekspresinya berubah total dari yang sebelumnya, dia menekanku,

"Ke-kenapa!?"

"Eto, yahh... Karena aku sangat menyukainya."

"... Huh?"

"Umm, salah satunya, aku sangat mengerti perasaan Tokiko... dan yahh, karena aku cuma sangat menyukai novel ini."

"... Be-begitu," ucap Hiiragi, kemudian dia mundur dan mengambil nafas pendek.

[OLI Fan Translation] Bokukano Korekara Chapter 1


Tubuh tegangku menjadi tenang, dan merenggangkan kepalan tanganku.

Kemudian dia tersipu malu, dan dengan sedikit tersenyum,

"Ini pertama kalinya seseorang mengatakan itu padaku..."

Dari caranya berbicara, tidak diragukan lagi Hiiragi tahu "Umur 14 Tahun". Terlebih, sepertinya dia punya semacam keterikatan yang dalam dengan buku itu.

"... Umm, kau tahu..."

Hiiragi mencari kata-kata untuk sesaat, menunduk. Kemudian, setelah memalingkan muka, kemungkinan besar ragu-ragu untuk berbicara, dia berbalik padaku dengan ekspresi bertekad dan berkata:

"Itu aku."

"... Apa?"

"Penulisnya, Hiiragi Tokoro... dia kakak perempuanku, dan 'Umur 14 Tahun' adalah novel yang menceritakan tentangku. Jadi, Tokiko yang ada di novel ini, itu aku..."

Beberapa detik setelah mendengar perkataan itu, maknanya akhirnya sampai ke otakku.

Panas yang kurasakan di sekujur tubuhku bukan karena sesuatu yang sederhana seperti terkejut.

Aku kesulitan bernafas, pikiranku mati rasa dan menjadi panas. Tanganku gemetar, dan kakiku melemah.

Pikiranku mendadak jadi kacau, dan penghilatanku jadi kabur.

Tokiko ada di hadapanku.

Kesanku tidak salah.

"Umur 14 Tahun" adalah novel tentang Hiiragi Tokiko yang dibuat oleh kakak perempuannya.

Jadi singkatnya, teman sekelasku, Hiiragi Tokiko, adalah protagonis dari "Umur 14 Tahun", Tokiko nya sendiri.

"Seriusan..."

Dia tidak menunjukkanku bukti apapun. Faktanya, aku tidak pernah bertemu kakaknya Hiiragi, jadi bisa saja dia bicara omong kosong.

Namun, dengan mudahnya aku mempercayai perkataannya.

Jika tidak, bagaimana aku bisa menjelaskan kemiripan Hiiragi dan Tokiko satu sama lain.

"Ka-kau tahu!"

Begitu panasnya sudah berlalu, aku bergetar kesenangan.

"Novel ini, aku sangat menyukainya! Sungguh, di antara semua buku yang kubaca, buku ini adalah yang paling menarik!"

"Su-sungguh?... Terima kasih..."

Hiiragi memalingkan muka, tersipu malu.

"Aku jarang punya pikiran macam ini, tapi aku bisa merasakan empati yang sesungguhnya pada Tokiko, setiap kalimat yang dia ucapkan semuanya persuasif... Rasanya seperti aku punya teman di sana."

"Terima kasih... Novel ini, ini kurang lebih seperti diari dari masa-masa aku SMP... jadi itu membuatku senang kau berbicara seperti itu."

"Begitu, mengingat sudut pandang Hiiragi, sudah pasti begitu... Umm, yang lebih penting, eto... Oh iya! Bagian yang 'Aku tidak berbeda dari mereka'! Kau tahu, 'Aku berbeda dari semua orang dan aku sama seperti semua orang, tidak peduli siapapun, saat kau menempatkan orang lain pada poros yang berbeda, mereka sama'! Kupikir itu 100% benar, itu sesuatu yang sangat cerdik untuk dikatakan──"

"Tu-tunggu, berhenti!"

Hiiragi mendorong telapaknya padaku, wajahnya sangat merah.

"Itu memalukan, jadi hentikan... Membicarakan isi novelnya itu..."

"Eto, ah, iyaa, ma-maaf..." buru-buru aku berhenti berbicara, "Jangan-jangan kau tidak begitu ingin membicarakannya...?"

"... Umm, yahh, bukan begitu," Hiiragi menurunkan pandangannya, mencari kata-kata untuk sesaat, kemudian, "Aku tidak keberatan membicarakan 'Umur 14 Tahun'. Itu sangat menggambarkan perasaan dan pikiranku dengan baik, dan sekarangpun aku berpikir sama seperti yang kulakukan di buku... Tapi, mendengar seseorang membicarakannya, bagaimana bilangnya, itu seperti mendengarkan rekaman diri sendiri..."

"... Begitu."

Aku agak mengerti itu.

Tentunya, mendengar seseorang membacakan kalimat dari pikiran dan perasaanmu pastilah memalukan.

Aku terlalu bersemangat sehingga aku berbicara terlalu banyak.

"... Tapi kau tahu, itu luar biasa. Jadi protagonis novel maksudku."

Buru-buru aku menekan semangatku dan kali ini apa yang muncul di pikiranku merupakan kekaguman murni semata.

Aku tidak bisa sepenuhnya menenangkan diri. Meski aku pikir itu normal, mempertimbangkan situasinya.

"Terlebih, bukunya punya rating cukup tinggi, bukan? Kupikir aku melihat di suatu tempat kalau kritikawan memberi ulasan yang langka."

Walau penjualan "Umur 14 Tahun" rata-rata, itu didukung oleh beberapa penggemar maniak. Faktanya, buku itu masih dapat artikel kecil di beberapa majalah, dan banyak ulasan yang memujinya sebagai mahakarya yang tidak diketahui di Internet.

"Kau benar... Bahkan sepertinya kantor depertemen editorial memberi rating yang cukup tinggi juga, jadi mereka mulai membicarakan sekuel dengan kakakku..."

"Seriusan?"

"Iya, tapi tanggal terbitnya dan yang lain-lain sama sekali belum diputuskan."

Itu berita terbaik yang pernah aku dengar.

Lagipula, satu-satunya keluhanku terhadap "Umur 14 Tahun" hanyalah bukunya yang terlalu singkat.

Meskipun salah satu alasannya adalah menjadi singkat bagi novel yang panjang, ini lebih seperti sangatlah boros memiliki pesona Tokiko hanya terkandung di satu volume saja. Aku selalu berpikir kalau mereka seharusnya menerbitkan sekuel.

"Begitu. Yahh... aku sangat menantikannya, sungguh."

"Terima kasih. Aku akan beri tahu kakakku juga... Ju-juga, umm," Hiiragi tersipu sekali lagi, "Aku lebih suka jika kau merahasiakannya kalau aku muncul di dalam novel. Karena... yahh, kau tahu, ada beberapa bagian yang agak memalukan..."

"... Ah, iya."

Tepat setelah diberitahu itu, aku pun ingat.

Ada adegan mandi dimana Tokiko memikirkan tubuhnya. Bagian dimana ia pikir kalau dadanya yang bertambah besar itu tidaklah menyenangkan, tapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk itu. Sayangnya, bagi seorang laki-laki sepertiku tidak bisa bersimpati padanya tentang hal itu.

Tapi aku mengerti.

Apa yang diceritakan itu adalah Hiiragi yang ada di hadapanku, perasaanya dan tubuhnya──

"...!"

Saat aku sedang memikirkan itu, aku melihat dada Hiiragi dalam sekejap.

Tonjolan moderat yang kembar mendorong blusnya.

Anehnya aku merasa bersalah, jadi buru-buru aku memalingkan muka.

Mungkin dia menyadarinya... Kalau aku melihat dadanya.

Jika begitu, maka ini buruk. Melihat dadanya sambil mengingat adegan kamar mandi dari novel, aku pasti akan terlihat buruk dan disebut menjijikan.

Serius, apa yang kulakukan...

"Y-yahh, hanya itu yang ingin aku katakan..."

Aku tidak tahu apa dia menyadarinya atau tidak, tapi Hiiragi berkata dengan nada yang kaku.

"Maaf, tiba-tiba membawamu ke tempat seperti ini..."

"Ti-tidak, tidak masalah."

Aku menggelengkan kepalaku seperti anjing yang basah kuyup dibanjur air.

"Terima kasih... Yahh, kalau begitu..."

Hiiragi sedikit membungkukan kepalanya, lalu dia berbalik dan pergi menuju bangunan ruang kelas.

Aku tidak dapat melihat punggungnya lagi.

Aku bisa mendengar pukulan drum dan nada panjang terompet dengan samar-samar.

Dan aku masih bingung, seperti pusaran psikedelik sedang berputar-putar di pikiranku.







Malam itu, aku kesulitan tidur.

Kegembiraan dan kebingungan. Gembira karena ada Tokiko di kelasku, dan menyesal karena pandangan tidak sopanku. Itu pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan begitu banyak perasaan dengan jelas di saat yang bersamaan.

Apa yang ingin aku lakukan dari sekarang?, pikirku sambil berbaring di kasur.

Aku akan bersama Tokiko paling tidak untuk setahun. Selama itu, aku penasaran apa yang akan ku temui, dan apa yang akan ku alami.

Atau mungkin, tidak akan ada yang terjadi.

Bagaimanapun, aku harus merahasiakan dirinya menjadi protagonis di "Umur 14 Tahun", jadi kita tidak bisa membicarakannya di kelas. Jadi kita mungkin hanya akan terus hidup sebagai "teman sekelas" sampai kelulusan. Mempertimbangkan kepribadianku, kemungkinan besar itu yang akan terjadi.

... Tapi yahh, begitulah adanya.

Satu-satunya hal yang kuinginkan adalah untuk hidup sendiri, tanpa terlibat dengan siapapun.

Hiiragi pun sama, jadi tidak ada gunanya bagi kita memperpendek jarak antar kita.

Aku melihat ke jam sambil menghela nafas, sudah jam 3 pagi.



Kemudian, esok paginya.

Aku membuka rak sepatu setengah tertidur, dan di dalamnya ada surat kecil.



──Aku memikirkan banyak hal dan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Tolong temui aku sepulang sekolah. Hiiragi.



Tinta hitam dari pulpen. Berbeda dengan perempuan-perempuan di kelasku, ini ditulis dengan elegan.

Tanpa diragukan lagi ini Tokiko── Hiiragi lah yang menulis surat ini.







"Maaf, tepat setelah apa yang ku katakan kemarin..."

Sambil berjalan sedikit di depanku Hiiragi membalikkan kepalanya padaku merasa menyesal.

"Ada sesuatu yang sangat ingin aku bicarakan..."

Seperti biasa, ekspresinya sama dengan gambaranku terhadap Tokiko, dan persis seperti kemarin yang aku masih dalam keadaan teler, jadi aku menggelengkan kepalaku dengan gugup.

"Hmm, yahh, aku tidak keberatan..."

Sepulang sekolah, persis seperti yang dikatakan surat itu, lalu dia menyuruhku untuk mengikutinya dan kita pergi dari sekolah.

Kemudian kita melewati distrik pembelanjaan dan stasiun, dan saat ini berada di daerah perumahan. Namun, dia masih tidak memberitahuku kemana kita akan pergi.

Kemana kita akan pergi? Dan apa yang ingin ia bicarakan?

Aku melihat punggung Hiiragi, secara bertahap dipenuhi dengan kecemasan.

Mungkinkah... Dia ingin membuatku menandatangani kontrak untuk tidak membocorkan apapun? Meski baru jadi perusahaan menengah, Edisi Machida yang menerbitkan "Umur 14 Tahun" bisa disebut veteran dalam bidangnya. Mungkin mereka punya prosedur untuk menghargai privasi penulis dan klien mereka.

Atau mungkin Hiiragi menyadari tatapanku kemarin dan ingin memberitahuku untuk tidak pernah berbicara padanya lagi. Aku yakin aku cukup menyeramkan kemarin.

Berkat "Umur 14 Tahun" aku jadi sedikit tahu tentang kepribadiannya dan cara ia berpikir.

Tapinya, tidak peduli aku memikirkannya, aku tidak dapat mengerti apa yang ingin Hiiragi lakukan.



Akhirnya, kita sampai di depan taman.

Taman anak-anak di tengah-tengah daerah perumahan, sekitar setengah ukuran kolam renang 25 meter. Ada anak-anak dari TK sedang berlarian, dan ibu-ibunya sedang bergosip satu sama lain di kursi taman.

"Ayo bicara disini," ucap Hiiragi, berjalan menuju bangku kosong.

Melihat betapa naturalnya dia, akhirnya aku sadar.

Ini adalah taman yang muncul beberapa kali di "Umur 14 Tahun", tempat kesukaan Tokiko. Ketika dia sedang bertengkar dengan kakaknya atau merasa galau, Tokiko sering datang kesini dan menghabiskan waktu disini.

"Jadi tempat ini..."

Datang ke "panggung" dari novel kesukaanku, bukannya ini pada dasarnya bisa disebut juga dengan ziarah? Aku tidak begitu tertarik dengan hal semacam ini, tapi benar-benar berada disini itu cukup menyentuh. Terlebih, protagonisnya sendiri ada di sebelahku.

"Umm... Maaf," Hiiragi mulai bicara, "membuatmu datang kesini. Tapi ini sulit dikatakan di sekolah, jadi..."

Hiiragi mulai menjelaskan dengan gugup. Mengingat karakternya, ini mungkin pertama kalinya ia mengajak teman sekelasnya ke suatu tempat.

"Ah, yahh, tidak, jangan khawatir, aku juga tidak punya rencana apapun."

"Terima kasih. Kalau begitu, tentang hal yang ingin aku bicarakan."

Hiiragi merendahkan kepalanya, kemudian mulai bergumam beberapa kata untuk sebentar.

Lalu, mungkin telah menyelesaikannya sendiri, tiba-tiba ia mengangkat wajahnya dan berkata:

"Aku punya permintaan padamu."

"... Permintaan?"

Aku hanya bisa mengulangi perkataannya karena itu sangat tidak terduga.

Apa yang dia maksud? Permintaan? Padaku? Seperti dugaanku, dia tidak ingin aku untuk berbicara dengannya lagi──

"Tolong bantu aku."

Pikiranku mulai berhenti.

"Umm, aku memikirkannya semalamam lalu aku sadar. Kalau kamu membantuku kemarin pagi, Hosono-kun. Ketika aku mati kutu dan tidak bisa menjawab, kau ikut campur untuk memudahkan bagiku. Saat itu terjadi, aku sama sekali tidak menyadarinya. Aku hanya berpikir kalau ada orang lain yang menyukai literatur Jepang. Tapi... sebenarnya, kau menolongku, bukan?"

"Itu..."

Aku kehilangan kata-kata untuk sesaat. Aku menolongnya. Mengatakan itu membuatnya terlihat baik, tapi sebenarnya itu juga aku meng-investigasinya. Tidak seperti yang dikatakan Hiiragi, itu bukan murni tindakan berdasarkan rasa keadilanku.

"Hmm, yahh, kau benar. Tapi kau tahu, sebagian besar itu juga karena aku ingin tahu kenapa Hiiragi terlihat sangat mirip seperti Tokiko..."

"Meski begitu, itu sangat menolongku. Aku selalu seperti itu, jadi aku membuat suasananya canggung. Aku ingin sedikit berkembang, tapi aku tidak tahu caranya..."

Aku ingat bahkan di novel, ada bagian dimana Tokiko tidak bisa berbicara dengan orang lain dengan jelas.

Bahwa dia masih belum memecahkan masalah ini terlihat cukup jelas dengan yang terjadi kemarin.

"Kau tahu, aku pikir kau sangat baik, Hosono-kun. Kau pasti orang baik karena telah menolong orang asing sepertiku."

"Kau... terlalu memujiku."

Aku mengerti perasaannya sampai ke tingkat tertentu, tapi aku tidak bisa setuju terhadap aku yang jadi baik. Aku bukan pria baik seperti yang ia pikirkan.

Tapi,

"Itu tidak benar," ucap Hiiragi menggelengkan kepalanya. "Kau tahu, aku pikir begini. Orang ramah tidak selalu orang yang baik, dan orang baik tidak selalu orang yang ramah. Tapi... Seseorang yang tidak sadar akan kebaikannya sendiri tidak diragukan lagi orang yang baik dan juga orang yang ramah."

"... Begitu."

Meskipun dia memujiku, aku tidak merasa itu adalah yang sebenarnya, jadi aku tidak merasa malu.

Namun, mendengar perkataannya, aku merasakannya sekali lagi.

Pikiran dan cara berpikir ini... Tidak salah lagi Tokiko lah yang sedang berbicara denganku saat ini.

"Itu sebabnya, kalau bisa... Maukah kau membantuku, Hosono-kun? Umm, sampai aku bisa terbiasa dengan semua orang, dan hal lainnya juga, maukah kau menolongku seperti yang kau lakukan kemarin...? Aku akan melakukan apapun yang kubisa sebagai tanda terima kasih..." kata Hiiragi dengan hati-hati, pandangannya melihat kemana-mana.

Kemudian, memasang tampang menyesal, dia melihatku,

"Aku minta maaf karena egois. Tapi kalau sendiri aku tidak tahu harus apa..."



──Aku minta maaf karena egois. Tidak mungkin aku sekuat yang kau pikirkan.



Aku ingat kalimat itu dari Tokiko di "Umur 14 Tahun".

Saat ini, Tokiko nya sendiri mengucapkan kalimat yang sangat serupa padaku.

Aku mengambil nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.

Melihat ke sekeliling taman, anak-anak masih bermain-main dengan riang, dan ibu-ibu sedang bergosip dengan penuh semangat. Serodotannya sudah berkarat, ada jaring tergantung di sekeliling bak pasir. Pengemudi dari perusahaan pelayanan pengiriman barang sedang meminta tanda terima pada penerimanya; sepeda membuat suara nyaring ketika tiba-tiba berhenti.

Dan, di sebelahku, ada seorang gadis SMA yang mengenakan seragamnya.

Hiiragi Tokiko, sedang melihat kakinya dengan cemas.

Di satu sisi, kau bisa bilang kalau kita sedang melanjutkan cerita setelah epilog dari "Umur 14 Tahun" disini.

Melanjutkan cerita setelah waktu yang dilalui Tokiko di novel.

Dia menjadi umur 15, dan ini adalah halaman baru dari keseharian Hiiragi Tokiko si gadis SMA.

Dan disini, bukan hanya ada aku, tapi dia juga bahkan meminta pertolonganku.

Aku menjadi karakter dari ceritanya──

... Kepalaku dan perasaanku tidak bisa bertahan lebih jauh.

Meskipun Hiiragi yang muncul di hadapanku seharusnya kebetulan yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidup, alih-alih semuanya kembali normal, malah mulai berkembang ke arah yang sangat aneh.

...Apa yang harus aku lakukan?

Haruskah aku menerimanya? Atau haruskah aku menolaknya?

Aku inginnya untuk tidak terlibat dengan orang lain di SMA, sama seperti SMP dulu.

Tetap menjaga percakapan dan pekerjaan komite seminim mungkin, dan tidak bergabung klub manapun. Sama halnya dengan hubungan sosialku, aku inginnya untuk tetap menjaganya sekecil mungkin.

Berdasarkan prinsip ini, seharusnya aku menolak tanpa ragu.

Tapi,

"... Baiklah," ucapku, mengangguk ke Hiiragi. "Jika ada sesuatu yang bisa kubantu, aku akan membantu."

"... Sungguh?"

"Iya, meskipun aku tidak yakin bisa banyak membantumu..."

Tidak mungkin aku bisa menolak.

Tokiko sedang meminta pertolonganku. Aku, yang mendambakannya dan terus menerima pengaruhnya, dibutuhkan olehnya. Tidak mungkin bagiku untuk menolak permintaannya.

Ada juga perasaan ingin di dekat Hiiragi.

Aku ingin melihatnya, mendengar perkataannya, mengamati tindakannya.

Aku yakin banyak pembaca yang ingin melihat Tokiko setelah cerita ini. Dan kemungkinan besar, akulah satu-satunya di seluruh dunia yang dapat mendapatkan hak ini sekarang. Aku tidak bisa memikirkan tentang membiarkan itu pergi tepat didepan mataku.

Dan juga, aku pikir aku bisa berhasil.

Aku tahu hobi Hiiragi dan kepribadiannya. Bagaimanapun, aku membaca, membaca, dan membacanya lagi dan lagi novelnya selama sekitar satu tahun. Jika aku dipinta oleh orang lain aku akan ragu-ragu, tapi jika itu Hiiragi, rasanya seperti aku bisa berhasil.

Aku tidak tahu apakah aku bisa membantu banyak.

Namun, aku tidak yakin kalau dia akan berpikir akan lebih baik jika dia tidak meminta pertolongan.

Kalau seperti itu, aku ingin membantu Hiiragi.

"Terima kasih."

Hiiragi tersenyum. Pipinya yang putih dan lembut mengendur, dan dia sedikit menyipitkan mata almond nya.

Itu seperti senyuman pertama bayi yang baru lahir, senyuman kecil yang tak berdaya.

"Mohon bantuannya mulai sekarang."

Lalu aku pun sadar.

Sampai detik ini, Hiiragi tidak pernah tersenyum satu kali pun.





──Menjadi licik, namun memegang ekspektasi, meskipun akhirnya aku merasa malu sekarang, aku tidak bisa mengucapkan apapun. Itu sebabnya, aku hanya berkedip dengan angkuh.

(Umur 14 Tahun/Hiiragi Tokoro - Edisi Machida)